Dalam diskusi singkat saya bersama Bapak Dony seusai kuliah umum, ia menegaskan komitmen Danantara untuk tidak memandang mahasiswa hanya sebagai subjek pasif dari kebijakan negara, melainkan menjadikan mereka sebagai objek aktif dan strategis dalam proses pembangunan nasional.
Ia bahkan menyampaikan bahwa Danantara sedang akan menyiapkan skema magang dan keterlibatan langsung bagi mahasiswa, sebagai bagian dari strategi regenerasi dan penguatan SDM nasional.
Pernyataan ini bukan hanya mencerminkan keberpihakan, tetapi juga pemahaman mendalam tentang pentingnya membangun kontinuitas antara kampus dan dunia kebijakan.
Jika dirunut lebih jauh, konsep yang dibawa Dony Oskaria sejatinya adalah pemulihan terhadap ekosistem intelektual pembangunan yang selama ini terputus.
Dunia kampus seringkali dikunci dalam menara gading teori, sementara dunia industri dan birokrasi berjalan dengan logikanya sendiri-sendiri. Triple Helix Baru hadir untuk menyatukan ketiganya dalam skema sinergis dan produktif.
Di sinilah letak keunggulan kepemimpinan Dony Oskaria: mampu membayangkan masa depan dengan presisi teknokratis sekaligus eksekusi yang operasional.
Dari sisi filsafat pembangunan, gagasannya menyentuh akar dari apa yang disebut Amartya Sen sebagai capability approach bahwa pembangunan bukan hanya tentang pertumbuhan ekonomi, tetapi tentang memperluas pilihan hidup manusia.Dan Dony menawarkan alatnya: Danantara, yang terintegrasi dengan kampus, BUMN, dan komunitas kebijakan.
Tidak berlebihan untuk menyebut bahwa Dony Oskaria hari ini adalah salah satu pemikir kebijakan paling progresif yang dimiliki Indonesia. Ia tidak hanya menguasai data dan strategi, tetapi juga memahami pentingnya membangun institusi, memperkuat legitimasi publik, dan mengundang keterlibatan kolektif dari semua pemangku kepentingan.
Sebagai pejabat negara, ia mempresentasikan tipikal transformational leader yang lebih banyak bekerja di balik layar, tetapi menghasilkan jejak langkah yang besar dan berpengaruh.
