Begitu juga dengan gelar , bukankah negara ini memerlukannya. Ternyata untuk meraih biaya itu perlu kreativitas, ilmu, kemauan dan keberanian itulah
bagian paling menentukan. “If you want to be seen by any people, you must be red in a plenty of white”. Kuti- pan umum Yang sangat membantu dalam menemukan warna sendiri, karakter dan eksistensi.
“Seorang Tour Operator Yang Hebat adalah Sutradara Yang Handal” Seharusnya ini tidak hanya bagi Tour Operator saja, tetapi bagi wiraswastawan, “mulai dan tentukan warna sendiri.
Tiga sudut pandang unik yang sangat memotivasi kreatifitas. Bisa dikatakan jika warna, karakter dan eksistensi itu telah ada jalanilah. InshaAllah kendala- kendala akan menjadi pendukung dan turut membesarkannya.
Contohnya, ketika beliau dikenal sebagai salah seorang pioneer Paperless Office di Indonesia, tidak lain karena kekurangan biaya untuk beli kertas.
Ketika program terkendala dengan akses masuk suatu tempat wisata, atau terkendala dengan akomodasinya, ditutupi dengan ide sederhana yang menarik, intuititf.
Semua hal di atas dilengkapi dengan sudut pandang instingtif dan irasional ketika beliau memodifikasi falsafah Minangkabau: “Alam Takambang Jadi Kantua”, dan sudah didengungkan semenjak 2000an.Sementara suatu komentar atau tulisan yang sangat menyiratkan hal tersebut baru terbaca tahun The Future Of Travel Is Working From Anywhere, Says NACTA Chapter Co-Chair, Camille Sperrazza” (pemilik World Awaits Travel), yang dimuat di www. travelmarketreport.com; NACTA = National Association of Career Travel Agents. Suatu sisi pandang instingtif dari Ridwan Tulus. Dia sudah memulai sebelum orang hebat memikirkannya!
Salah satu warna dalam dunia pariwisata adalah social tourism, yang dalam sejarahnya disebutkan pertama kali oleh ILO dan dikemukanan tahun 1948 melalui “The Universal Declaration of the Human Rights states that “Everyone has the right to rest and leisure, including reasonable limitation of working hours and periodic holidays with pay”; kemudian didefenisikan pertama kali tahun 1959 pada Congress of Social Tourism di Austria oleh Walter Hunziker sebagai berikut “ “So- cial tourism is a type of tourism practiced by low income groups, and which is rendered possible and facilitated by entirely separate and therefore easily recognizable services“;
Lalu tahun 1999 the World Tourism Organization adopts the “Global Code of Ethics for Tourism” that stresses tourism potential as regard to socialization and friendship among different people and cultures, universal tolerance and mutual respect.
