Oleh: Ajo Wayoik POSTINGAN dari Kominfo Padang Panjang bagi saya selalu menarik. Hari ini Akun yang sudah centang biru (jarang2 akun resmi pemda begini) memuat poster pacu kudo. Sebuah ajang tradisi yang sudah bertahun-tahum jadi "bungo galeh" nya pariwisata kota Serambi Mekah.
Ada yang langsung menjadi pembeda antara poster ini dengan poster2 atau aset promosi iven di kabupaten/kota lainnya di Sumbar. Yup! Tak ada foto kepala daerah! Padhal logo Pemko bertengger di jidat poster. Sedret rata dengan logo organisasi2 penyelenggara kegiatan. Keren!Kita dengan cepat terfokus pada inti kegiatan. Langsung merasakan semangat pacu kudo itu sendiri. Perihal kenapa namanya dj rubah jadi pacu kuda, nantilah saya tanya ke ajo Maryulis Max . Yang jelas, saya dapat membayangkan jika desain ini di cetak untuk media luar ruang sebesar apapun akan tetap menarik.
Sedangkan jika boleh memperbandingkan, kita bisa cek poster-poster promosi kegiatan "bungo galeh" di berbagai daerah lainnya di Sumbar. Foto bupati atau walikota memakan sebagian besar space promosi. Bahkan, bupati/walikota yang sudah pernah ke luar negeri (tentu ke negara yang lebih maju) tetao juga melakukan cara begitu. Padahal mereka pernah melihat langsung,betapa di negara-negara maju itu tidak pernah ada baliho bergambar kepala daerah. Kecuali memang di masa kampanye.Memajang wajah di ruang publik dengan nyinyir agaknya adalah pola purba dalam memperjelas posisi pribadi di tengah pandangan umum. Sejak jaman kerajaan dulu sudah begitu. Arca-arca para raja adalah bentuk "poster" masa lalu yang merepresentasi bentuk fisik sang junjungan. Sekarang cuma alih media saja dari batu ke lembaran vinyl atau digital space. Itu saja. Polanya masih serupa. Sekiranya orang minang tidak punya tendensi terhadap objek figuratif multi dimensi seperti patung, barangkali para kepala daerah itu sudah bersipacu membuat patung-patung mereka dimana-mana.
Kalau kita kemana-mana, kita akan melihat wajah dan nama kepala daerah mengintai di tiap sudut persimpangan. Kadang bersama forkopimda, bersama bininya, bersama petinggi partainya atau bersama pejabat pusat. Kalau sudah 2 tahun menjabat, foto bersama dengan wakilnya akan jarang terlihat. Begitulah....Kadang sebagian spanduk dan baliho itu sudah kusam. Jadi sampah visual saja.Kembali ke poster ini. Lihatlah, tak ada ego di poster ini. Dan memang begitulah Padang Panjang. Warga Padang Panjang menyebut diri mereka warga Pabasko. Artinya Padang Panjang Batipuah X Koto. Sementara Batipuah dan X Koto sendiri justru masuk di wilayah Pemkab Tanah Datar. Tapi tak sedikitpun Pemko Padang Panjang berniat mengeliminir nama dua daerah itu pada iven yang sudah mentradisi. Lihatlah di poster ini, kedua nama tetap tertera dengan jelas.Ya, budaya tak bisa dibatasi oleh sekat politis-administratif. Tak seperti sebagian daerah yang mudah saja mengesampingkan peran masyarakat dan nama daerah sebelah yang satu budaya dalam iven tradisi. Padahal notabenenya kegiatan itu menjadi kebanggan bersama.
Estetis, eyecatching, ringan, tapi penuh dengan semangat. Keren! (laman Facebook @Ajo Wayoik)
Editor : Adrian Tuswandi, SH