Seri 1: Janji keuntungan 10% tapi Apa yang Dipertaruhkan?
Sebelum memulai pembahasan, marilah kita membayangkan sebuah ilustrasi fiksi. Di sebuah kedai, Sutan dan Baki duduk berhadapan. Dua cangkir kopi mengepul di antara mereka. Di atas meja, terselip rencana menanamkan modal pada bengkel Samsudin di perantauan.
“Tan, kalau berhasil, keuntungan dan ilmunya bisa kita bawa pulang,” ujar Baki.
Sutan mengangguk, tetapi belum menyentuh kopinya. Pikirannya lebih dahulu pulang kepada orang-orang kampung yang mempercayakan modal kepadanya.
“Saya juga ingin membawa hasil,” jawabnya. “Tetapi kalau uang ini berkurang, atau malah habis, bagaimana saya menjelaskannya kepada mereka?”
Baki membawa modal kelompoknya. Sutan membawa amanah orang sekampung. Keduanya berharap untung, tetapi Sutan tahu bahwa kabar buruk dari perantauan akan sampai ke banyak rumah.
Dalam cerita ini, Sutan menggambarkan Danantara, Baki menggambarkan mitra dari lingkungan usaha Bakrie, dan Samsudin menggambarkan HighPeak Energy di Amerika Serikat. Modal orang kampung melambangkan tanggung jawab atas kekayaan negara yang dikelola Danantara.Sebelum mengikuti perjalanan modal itu, mari melihat keadaan keuangan Indonesia. Hingga September 2026, pendapatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, atau APBN, mencapai Rp2.341,5 triliun, sedangkan belanjanya Rp2.660,5 triliun. Selisihnya Rp319 triliun, setara 1,24% dari ukuran ekonomi nasional. Pemerintah menyatakan keadaan tersebut masih sejalan dengan rancangan anggaran. Namun, pekerjaan rumahnya tetap nyata: belanja harus tepat sasaran, penerimaan diperkuat, dan biaya pembiayaan dikendalikan.
Di tengah kebutuhan itu, Danantara diharapkan membuat kekayaan negara lebih produktif. Pada 8 Oktober 2026, Menteri Keuangan menyatakan dividen Danantara belum diperhitungkan sebagai penerimaan APBN 2026 dan 2027. Harapan masyarakat tetap ada: modal yang dikelola perlu menghasilkan manfaat, baik melalui keuntungan maupun kegiatan ekonomi yang membuka pekerjaan.
Karena itulah, sebelum Sutan mengirim kabar baik, kita perlu membuka perjanjian dan buku usaha Samsudin. Seri pertama ini membahas hak yang dibeli Danantara, cara menerima hasil, jalan mengembalikan modal, serta kesehatan keuangan HighPeak. Dari sana, kita menimbang satu pertanyaan: apakah tawaran hasil 10% sepadan dengan risikonya?