Konektivitas Sumbar: Tiga Putra Minang Dorong Pembangunan Ekonomi Daerah

Two Efly, Wartawan Ekonomi. (Foto: Ist)
Two Efly, Wartawan Ekonomi. (Foto: Ist)

Oleh: Two Efly, Wartawan Ekonomi

Ada sejarah yang ditulis untuk pertama kali. Ada pula sejarah lama yang ditulis ulang dengan tinta dan semangat zaman yang berbeda. Di Sumatera Barat, sejarah itu sedang bergerak. Sejumlah infrastruktur yang menjadi simpul konektivitas ekonomi sedang dipacu. Anak rantau Minang yang berada di lingkaran pengambilan kebijakan nasional bergandengan tangan dengan anak nagari untuk membangun kampung halamannya.

Selasa, 27 Oktober 2026, menjadi salah satu penanda penting. Tiga putra Minang—Dony Oskaria, Andre Rosiade, dan Bobby Rasyidin—berada dalam satu irama untuk mendorong pembangunan Sumatera Barat. Dony Oskaria sebagai Kepala Badan Pengaturan BUMN, Andre Rosiade sebagai Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, dan Bobby Rasyidin sebagai Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero), masing-masing membawa peran dan kewenangan yang berbeda.

Mereka tidak bekerja sendirian. Ada pemerintah pusat, kementerian teknis, BUMN, pemerintah daerah, dan anak nagari yang ikut mengambil bagian. Kolaborasi itulah yang diharapkan menjadi tenaga pendorong agar Ranah Minang tidak berlama lama berjalan di tempat. Harapannya sederhana, ranah ini mampu mengejar ketertinggalan dan memperbesar daya saing ekonominya.

Sejumlah proyek mercusuar mulai dibangun. Dari stadion di pusat Kota Padang, jalan layang di Sitinjau Lauik, hingga jalur kereta api yang hendak dihidupkan kembali. Bentuknya berbeda, tetapi benang merahnya sama: membangun konektivitas ekonomi.

Dari Renovasi menjadi Rekonstruksi

Di pusat Kota Padang, Stadion Gelanggang Olahraga Haji Agus Salim sedang memasuki babak baru. Stadion yang dibangun pada dekade 1980-an itu bukan sekadar bangunan olahraga. Di sana tersimpan sejarah sepak bola Sumatera Barat, kenangan para pemain, riuh suporter, serta kebanggaan masyarakat Ranah Minang.

Awalnya, pemerintah merencanakan renovasi. Namun, setelah melalui evaluasi dan kajian teknis, keputusan berubah. Bukan lagi sekadar memperbaiki bagian yang rusak, melainkan membangun kembali stadion tersebut secara menyeluruh.

Ada pesan penting di balik pembangunan ini. Stadion tidak cukup hanya tampak megah dari luar. Ia harus dibangun dengan perencanaan matang, struktur yang kuat, dan standar keselamatan yang sesuai. Apalagi Sumatera Barat berada di wilayah rawan gempa.

Ketika meninjau pembangunan stadion, Dony Oskaria mengingatkan pentingnya menjaga kualitas pekerjaan dan memastikan kontraktor serta subkontraktor memiliki kompetensi yang memadai. Kerjakanlah dengan sepenuh hati. Pesan itu patut digarisbawahi. Sebab, membangun stadion bukan hanya urusan mengejar target penyelesaian, tetapi juga menyiapkan warisan bagi generasi mendatang.

GOR Haji Agus Salim bagi masyarakat Ranah Minang jauh melampaui pembangunan fisik. Ia merupakan ruang ingatan kolektif. Karena itu, rekonstruksi ini semestinya tidak berhenti pada lahirnya stadion yang lebih modern. Ia juga harus menjadi pemantik kebangkitan sepak bola, pembinaan atlet, penyelenggaraan pertandingan, dan pertumbuhan ekonomi di sekitarnya.

Editor : Editor
Banner Ultah Golkar 20
Bagikan

Berita Terkait
Terkini