Refleksi Sumpah Pemuda: Meneguhkan AMPI sebagai Laboratorium Kepemimpinan dan Kawah Candradimuka Partai Golkar

Zigo Rolanda, Ketua Umum DPP AMPI. (Foto: Ist)
Zigo Rolanda, Ketua Umum DPP AMPI. (Foto: Ist)

Oleh: Zigo Rolanda, Ketua Umum DPP AMPI/ Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar

Peristiwa bersejarah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 bukan sekadar momentum seremonial, melainkan manifestasi keberanian generasi muda dalam menyatukan perbedaan demi cita-cita besar bernama Indonesia. Hampir satu abad kemudian, tantangan generasi muda telah berubah. Mereka menghadapi disrupsi teknologi, persaingan kerja, derasnya arus informasi, serta tuntutan terhadap kepemimpinan yang kompeten dan berintegritas.

Bagi Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI), momentum ini menjadi pengingat bahwa organisasi kepemudaan tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial atau mobilisasi politik. AMPI harus menjadi laboratorium kepemimpinan nasional sekaligus kawah candradimuka kaderisasi Partai Golkar, tempat generasi muda ditempa menjadi pemimpin yang memiliki gagasan, karakter, dan kapasitas untuk mengabdi.

Indonesia memiliki peluang besar melalui bonus demografi, yakni kondisi ketika penduduk usia produktif mendominasi struktur penduduk. Proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa penduduk usia produktif 15–64 tahun masih menjadi kelompok dominan dalam struktur penduduk Indonesia.

Besarnya potensi tersebut juga tercermin dalam politik. Data Komisi Pemilihan Umum (KPU) menunjukkan bahwa pemilih Generasi Z dan milenial mencapai sekitar 58,38 persen dari total pemilih pada Pemilu 2024. Ini menegaskan bahwa generasi muda bukan sekadar penerus bangsa, melainkan kekuatan yang ikut menentukan arah kepemimpinan nasional hari ini.

Namun, bonus demografi tidak otomatis menjadi keuntungan. Tanpa peningkatan kompetensi, kesempatan kerja, dan kualitas kepemimpinan, besarnya populasi usia produktif dapat menghadirkan tantangan sosial dan ekonomi. Karena itu, bonus demografi harus diterjemahkan menjadi bonus produktivitas, inovasi, dan kepemimpinan.

Di sinilah AMPI harus mengambil peran strategis: memastikan anak muda tidak hanya menjadi objek pembangunan atau pemilih dalam kontestasi politik, tetapi juga menjadi pelaku pembangunan dan calon pemimpin yang mampu menghadirkan solusi bagi masyarakat.

Perubahan perilaku generasi muda juga ditandai oleh semakin besarnya peran ruang digital. APJII mencatat penetrasi internet Indonesia mencapai 80,66 persen pada 2025. Teknologi membuka kesempatan bagi anak muda untuk membangun usaha, memperluas jejaring, menyampaikan aspirasi, dan berpartisipasi dalam kehidupan publik.

Namun, ruang digital juga menghadirkan tantangan berupa disinformasi, polarisasi, dan kecenderungan menilai persoalan secara dangkal. Kecepatan menyampaikan pendapat tidak selalu diikuti kedalaman analisis, sementara popularitas tidak otomatis mencerminkan kapasitas kepemimpinan.

AMPI harus menjawab tantangan tersebut dengan mendorong kader menjadi produsen gagasan, bukan sekadar konsumen informasi. Kader muda perlu dibekali kemampuan berpikir kritis, literasi digital, pemahaman kebijakan publik, dan kecakapan mengubah aspirasi menjadi program yang terukur.

Editor : Editor
Banner Ultah Golkar 20
Bagikan

Berita Terkait
Terkini