Intelektual Perempuan Pertama Dari Tanah Sunda: Raden Ayu Lasminingrat

Raden Ayu Lasminingrat (dok/google)
Raden Ayu Lasminingrat (dok/google)

Oleh: Aisyah Nurhaniza Mahasiswi Ilmu Sejarah UNAND

TANAH SUNDAmelahirkan begitu banyak tokoh-tokoh pahlawan yang berjuang dalam memerdekakan Indonesia. Tokoh-tokoh tersebut berjuang melalui berbagai cara, ada yang berjuang melalui senjata dan ada yang berjuang melalui diplomasi.Perjuangan para tokoh tersebut tidak mengenal gender, ras maupun suku bangsa karena mereka semua sama-sama berjuang demi satu tujuan Indonesia Merdeka. Kemerdekaan Indonesia merupakan suatu hal mutlak yang harus diwujudkan oleh segenap anak bangsa.

Beberapa pahlawan nasional yang mungkin sering kita dengar namanya, berasal dari Tanah Sunda. Tokoh tersebut seperti, Otto Iskandar Dinata (pahlawan nasional yang namanya diabadikan dalam uang pecahan dua puluh ribu edisi lama), Djuanda Kartawidjaja (Mantan PM Indonesia penggagas Deklarasi Djuanda) dan Dewi Sartika (Tokoh emansipasi wanita masa Kolonial Belanda). Masih banyak tokoh lainnya yang berasal dari Tanah Sunda, baik yang dikenal, kurang dikenal maupun tidak dikenal kesemuanya merupakan pejuang kemerdekaan yang jasanya wajib kita kenang dan hargai.Salah satu dari sekian tokoh yang namanya kurang dikenal oleh masyarakat luas terutama para generasi muda ialah Raden Ayu Lasminingrat. Beliau memiliki jasa yang luar biasa besar bagi dunia pendidikan dan emansipasi wanita di Tanah Sunda pada masa Kolonial Belanda. Tetapi, namanya tidaklah seharum R.A Kartini dan Dewi Sartika yang telah ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Karena memang beliau baru diajukan sebagai pahlawan nasional pada tahun 2007, namun sampai sekarang usaha tersebut belum membuahkan hasil. Oleh karena itulah, menjelang Hari Ibu yang jatuh pada 22 Desember nanti, ketokohan seorang Raden Ayu Lasminingrat menarik untuk diulas.

Latar Belakang KehidupanRaden Ayu Lasminingrat lahir pada tahun 1843 di Kota Intan Garut, Jawa Barat. Beliau berasal dari keluarga kaum menak atau kaum bangsawan dari garis keturunan ayahnya. Ayah Lasminingrat bernama Raden Haji Muhammad Moesa dan ibunya bernama Raden Siti Marijah. Profesi ayahnya dikenal sebagai Penghulu Bintang Limbangan yang memiliki pandangan yang luas dan rasional serta juga merupakan pelopor dalam kesusastraan Sunda. Sehingga dapat dikatakan bahwa Lasminingrat lahir dari keluarga yang terhormat dan terpandang baik melalui pihak ayah maupun pihak ibu.

Memasuki dunia pendidikan, Lasminingrat yang merupakan anak seorang bangsawan pada awalnya tidak disekolahkan, karena pada saat itu di Garut belum terdapat sekolah khusus untuk wanita. Tetapi beliau tetap mendapatkan pendidikan secara informal melalui controleur Levyssohn Norman yang merupakan orang Belanda sahabat ayahnya.Melalui beliaulah, Lasminingrat dapat memahami dan mengerti bahasa Belanda yang akan berguna baginya dimasa depan. Karena beliau dididik oleh orang Belanda yang berpaham liberal, membuat Lasminingrat juga memiliki pemikiran yang bebas yang melahirkan sikap berbeda dengan ayahnya.

Sebagai Perempuan pertama yang mendapatkan pendidikan barat, Lasminingrat menunjukkan kepada perempuan-perempuan bahwa pendidikan itu penting karena akan mendatangkan kesejahteraan dan kemaslahatan. Walaupun tidak semua perempuan dapat menikmati posisi tersebut dan Lasminingrat beruntung dapat merasakan pendidikan barat yang membuat beliau bisa mempengaruhi pendidikan di masa depan khususnya bagi kaum perempuan di Tanah Sunda.Beberapa tahun kemudian selepas pendidikan tepatnya di tahun 1865 Lasminingrat menikah dengan Raden Tamtoe Somadiningrat dan dikaruniai seorang putri. Namun pernikahan tersebut tidak berlangsung lama karena Raden Tamtoe meninggal dunia sehingga membuat Lasminingrat kembali Garut. Sekembalinya ke Garut inilah perjuangan Raden Ayu Lasminingrat dalam usaha memajukan pendidikan bagi kaum perempuan dimulai.

Kondisi Pendidikan Perempuan Masa Kolonial BelandaPada masa penjajahan Kolonial Belanda, pendidikan untuk perempuan hanya diberikan kepada anak-anak perempuan keturunan Eropa. Tetapi, tidak semuanya mendapatkan pendidikan tersebut karena hanya untuk mereka yang kalangan atas dan syarat masuk sekolah tersebut harus fasih berbahasa Belanda.

Sekolah tersebut berdiri tahun 1876 di Batavia dan merupakan sekolah khusus perempuan pertama di Indonesia. Sekolah ini bertujuan memberikan pendidikan kesusilaan dan pengetahuan dengan lama pendidikan tiga tahun atau tiga tingkatan. Baru di tahun-tahun berikutnya dibuka sekolah-sekolah perempuan di beberapa kota yakni Semarang, Surabaya dan Padang.Pada anak-anak pribumi, awalnya pendidikan mereka dapatkan melalui pesantren-pesantren yang lebih menitikberatkan pada pendidikan agama. Karena, anak-anak pribumi tidak diberikan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang sama dengan anak-anak Eropa. Baru pada tahun 1849, Pemerintah Kolonial Belanda membuka sekolah dasar tiga tahun bagi anak-anak pribumi. Kemudian, disusul dengan pembukaan sekolah guru tahun 1852. Perkembangan sekolah-sekolah tersebut sedikit terhambat akibat kekurangan biaya dan tenaga pengajar.

Kesulitan tersebut diatasi dengan pembukaan sekolah desa yang dibiayai oleh desa yang bersangkutan. Sekolah desa ini memberikan pendidikan selama tiga tahun dengan pengajaran dilakukan menggunakan bahasa daerah. Di antara murid yang ada di sekolah tersebut, sangat sedikit jumlah murid perempuan. Hal ini disebabkan oleh keberatan para orang tua murid perempuan untuk memasukkan anak-anaknya ke sekolah.Alasan-alasan keberatan tersebut antara lain: pendidikan bagi perempuan dirasa tidak penting; anak perempuan lebih pantas berada di rumah karena ditakdirkan untuk melanjutkan keturunan; pelajaran yang diberikan tidak banyak berguna bagi perempuan pribumi; perempuan tidak bekerja jadi pengetahuan yang didapat di sekolah tidak berguna dan mereka hanya memerlukan pendidikan rumah tangga saja; serta orang tua takut wibawanya akan berkurang terutama dalam hal menentukan perkawinan.

Berbagai alasan tersebut yang membuat sedikitnya jumlah murid perempuan di sekolah. Pada tahun 1878, hanya terdapat 25 orang murid perempuan dan 12. 448 murid laki-laki. Sedangkan di tahun 1897, jumlah murid perempuan mengalami peningkatan menjadi 301 orang dan 24. 732 orang murid laki-laki. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pendidikan perempuan masa Kolonial Belanda belum maksimal karena terjadinya bias gender dan masalah adat istiadat. Oleh karena itulah, Raden Ayu Lasminingrat hadir sebagai perintis pendidikan perempuan di Indonesia dengan cara memnuangkan pemikirannya tentang pendidikan perempuan dengan membuat sakola kautamaan istri pertama kali pada zaman itu sebelum Dewi Sartika.Perjuangan Raden Ayu Lasminingrat

Editor : Adrian Tuswandi, SH
Banner InfografisBanner - Gor
Tag:
Bagikan

Berita Terkait
Terkini