Intelektual Perempuan Pertama Dari Tanah Sunda: Raden Ayu Lasminingrat

Raden Ayu Lasminingrat (dok/google)
Raden Ayu Lasminingrat (dok/google)

Kembalinya Raden Ayu Lasminingrat ke Limbangan, Garut menjadi awalan aktivitas beliau dalam memajukan dunia pendidikan bagi kaum perempuan. Beliau menulis dan menerjemahkan buku-buku berbahasa Belanda ke bahasa Sunda untuk dibaca oleh anak-anak.Beberapa karya Lasminingrat yakni Tjarita Erman dan Cerita Warmasari. Buku-buku ini merupakan kumpulan buku cerita dari buku Vertelsels het wonderland voor kinderen, klein en groot karangan von Grimm dan J.A.A. Goeverneur. Buku-buku karangan beliau laku keras di pasaran dan berulang kali mengalami cetak ulang, hal ini dibuktikan dengan Buku Tjarita Erman dicetak sebanyak 6.015 eksemplar. Padahal ketika itu, masyarakat pribumi masih banyak yang buta huruf dan rata-rata penerbit hanya mampu mencetak 1.500 sampai 3000 eksemplar untuk terbitan pertama.

Selain menulis, tahun 1907 Lasminingrat mengikuti jejak ayahnya untuk mendirikan sekolah. Sekolah tersebut diberi nama Sakola Kautamaan Istri, walaupun bernama sekolah namun pada saat itu belum memiliki Gedung pribadi.Awalnya kegiatan sekolah di laksanakan di ruangan gamelan pendopo dengan murid-muridnya berasal dari lingkungan keluarga dalem. Kegiatan di sekolah tersebut semakin lama semakin berkembang dan pengelolaan sekolah tersebut dibantu oleh keponakannya R.A Surianingrum.

Proses pendirian sekolah kautamaan istri yang di gagas oleh Lasminingrat menempuh prosedur yang legal dengan meminta izin pendirian gedung kepada Gubernur Jenderal. Hingga akhirnya sakola kautamaan istri dapat berdiri di Garut. Sakola kautamaan istri yang beliau dirikan mendapatkan sambutan yang hangat dari masyarakat. Tidak lama kemudian, sekolah tersebut membuka cabang di Tarogong, Wetan, Bayongbong dan Cikajang. Sekolah kautamaan istri ini berubah nama menjadi sakola gadis dan pengelolaannya diteruskan oleh Poernamaningrat salah satu murid kesayanagan yang juga keponakan Lasminingrat.Perjuangan Lasminingrat harus terhenti karena beliau wafat di tahun 1948 akibat sakit yang beliau derita pada saat mengungsi dalam perang kemerdekaan. Penulis Deddy Effendie dikutip dari Kompas, menyebutnya sebagai tokoh intelektual perempuan pertama di Indonesia.

Selama perjuangannya, Lasminingrat mmeiliki dua bidang sebagai perhatiannya yakni dunia kepenulisan dan pendidikan bagi kaum perempuan. Ia sangat peduli akan nasib kaum hawa khususnya perempuan sunda.(analisa) 

  

  

  

  

  

  

Editor : Adrian Tuswandi, SH
Banner InfografisBanner - Gor
Tag:
Bagikan

Berita Terkait
Terkini