Oleh: Ilhamsyah Mirman Founder RRc/TP2 Dewi Sumbar
AJANG BERGENGSI Anugerah Desa Wisata (ADWI) Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tahun 2023 memasuki tahap pendaftaran. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat melalui Dinas Pariwisata berharap sangat, capaian tahun ini bisa menggapai hasil maksimal.Pariwisata Asa ke Depan
Kesadaran berbagai pihak tentang pengembangan sektor pariwisata sangat kondusif, nyaris all out. Mulai dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dengan aneka program, termasuk ADWI ini. Pemerintahan propinsi dengan progul Wisata Agro dan pencanangan Visit Beautiful West Sumatera (VBWS) 2023.Di kabupaten/kota antusiasme yang sama sangat kentara, termasuk Pemko Bukittinggi yang tidak mau ketinggalan dengan kegiatan bertajuk Pariwisata Terintegrasi. Serempak menyuarakan peran strategis pariwisata, utamanya yang berbasis adat budaya sebagai penguat 'cantik tingkat dewa' ranah Bundo Kanduang.
Maka sangat tepatlah kiranya momen penting ini tonggak merajut sinergitas dengan menjadikan proses penganugerahan ADWI sebagai best practice's. Karena ajang ini menggali akar budaya dengan mengangkat harkat lapis terdepan negeri, seraya dikemas sarat dengan nilai-nilai profesionalisme.Sumbar di ADWI 2022 lalu menempatkan 3 (tiga) desa masuk kategori 50 besar. Bahkan terbaik kategori digital salah satunta diraih oleh Silokek. Bersama GTP Ulakan dan Pariangan mewarnai eksistensi Sumatera Barat. Tahun ini diharapkan ada peningkatan, dari segi kuantitas ditargetkan 300 desa/nagari atau kelurahan.
Salah satu strateginya melibatkan pegiat langsung ke kelompok sadar wisata (Pokdarwis). Team Pemberdayaan dan Pengembangan Desa Wisata (TP2) sebagai ujung tombak menjadi salah satu tolok ukur. Upaya berbagi peran, disebar turun langsung pendampingan di berbagai wilayah menampakkan hasil dengan terdaftarnya 153 desa/nagari/kelurahan hingga dua minggu jelang penutupan.Meski demikian, semangat tinggi pegiat dan pemerintah daerah tidak bisa mencapai hasil maksimal sekiranya tidak didukung oleh semangat yang sama dari masyarakat dan pengelola Pokdarwis.
Perlu upaya intens membantu sosialisasi sekaligus meyakinkan dalam memanfaatkan pariwisata secara serius untuk meningkatkan pendapatan. Memang tidak serta merta mendapatkan keuntungan materi, namun ajang ADWI inilah salah satunya sebagai faktor peletup.Desa Wisata di kota BukittinggiMeski secara umum istilah desa terdengar asing di telinga orang Minang. Terlebih warga Bukittinggi, sebagai kota yang lebih dulu hadir, familiar dengan pariwisata.Namun ironinya, sejarah panjang pariwisata mengglobal sepertinya berputar hanya disekitar Jam Gadang. Manfaat nyata kehadiran wisatawan yang ingin menikmati kehijauan bentang alam dan kemurnian tradisi khas Kurai seakan terputus oleh aliran Batang Tambuo.
Padahal kehidupan sosial dan tradisi budaya yang khas dan kental mewarnai keseharian masyarakat, menjadi faktor penarik orang untuk ingin tau dan datang berkunjung.Kegamangan masyarakat yang mencemaskan bakal adanya infiltrasi terhadap budaya dan agama sehingga mengganggu harmoni, masih sangat lekat. Oleh karenanya perlu diupayakan pendekatan khusus melalui ninik mamak dan tokoh masyarakat.
Maka team digawangi Ilhamsyah Mirman, Muhamad ‘Bli’ Subari, Indra Dodi dan guide senior Budiman alias Mr. Buddy serta akademisi Muhamad Abdi bertambah misi, selain mendampingi isian yang njlimet. Membantu meyakinkan masyarakat kalau desa wisata adalah masa depan.Pelaksana Tugas (Plt) Kadis Pariwisata Aprillia Astuti sendiri yang menyampaikan kondisi persiapan desa wisata di rapat koordinasi bersama Pokdarwis dan TP2 Dewi Sumbar. Mengistilahkan sebagai anak unggul, maka lekat tangan pariwisata Bukittinggi yang melegenda, ditunggu-tunggu benar.
Tantangan mewujudkan asa si anak unggul sepertinya tidak mudah. Keberadaan 'desa wisata' di kota menimbulkan tanda tanya yang musti dijawab dengan fakta nyata di lapangan.Kedatangan pelancong ke Pasa Ateh dan aliran transaksi jumbo di pasa Aua Kuniang sebagai pusat grosir terbesar di jantung pulau Sumatera tidak berimbas ke 'desa'. Di tempat wisatawan Malaysia mencari garis nenek moyangnya sambil menikmati hawa sejuk Parijs van Java era kolonial, belum terasa benar manfaat bagi peningkatan sumber ekonomi masyarakat.
Editor : Adrian Tuswandi, SH