Seminar Departemen Ilmu Politik UNAND bersama Prof Dr Edward Aspinal

Prof Edward Aspinal kupas politik uang pada Seminar digelar Departemen Ilmu Politik UNAND, Kamis 27/6-2024. (dok)
Prof Edward Aspinal kupas politik uang pada Seminar digelar Departemen Ilmu Politik UNAND, Kamis 27/6-2024. (dok)

Padang,---Departemen Ilmu Politik Universitas Andalas sukses menyelenggarakan seminar pada Rabu, 26 Juni 2024 di Ruang Sidang Dekanat Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.Seminar menghadirkan narasumber top,Prof. Dr. Edward Aspinall, seorang pakar politik terkemuka dari Australia National University. Seminar ini dimoderatori oleh Kepala Departemen Ilmu Politik Dr. Tengku Rika Valentina, M.A.

Prof. Aspinall pada paparannya yang komprehensif mengupas tuntas berbagai aspek mengenai politik uang.”Politik uang menjadi sesuatu yang krusial dalam demokrasi, dengan berjalannya waktu politik uang telah menjadi sesuatu yang terlembagakan di masyarakat. Tingkat penerimaannya semakin tinggi dan golongan masyarakat yang menganggap politik uang selalu meningkat,"ujar Prof Edward Aspinal

Lanjut Prof Aspinall politik uang menggurita maka akan sulit untuk keluar dari lingkaran setan tersebut."Namun untuk kasus di Indonesia bisa menjadikan Korea Selatan dan Taiwan sebagai contoh yang berhasil memutus lingkaran setan tersebut. Keberhasilan tersebut tentunya ada pengaruh juga dari aspek ekonomi dan kemajuan dari negaranya.”ujar Prof Aspinall.

Guru Besar ini juga menyatakan bahwa Konsep Patronase dan Klientalisme merupakan dua konsep yang berbeda, di mana patronase membahas mengenai sumber daya para aktor sedangkan klientalisme memfokuskan terhadap relasi antara patron dan klien.Prof. Aspinall menambahkan bahwa “Fenomena politik uang di tiga negara yang pernah ia teliti yaitu Indonesia, Filipina dan Malaysia memiliki pola yang berbeda.

"Contohnya Indonesia cenderung menggunakan dana pribadi dalam melakukan politik uang sehingga banyak terdapat kasus seperti bunuh diri maupun stress yang dialami oleh kandidat calon yang berkampanye, fenomena tersebut adalah sesuatu yang aneh bagi negara lainnya.”ujarnya.Terdapat beberapa perbedaan mendasar yang ditemukan oleh Prof. Aspinall di antara negara Malaysia, Filipina dan Indonesia.

Malaysia, birokrasinya terlebih dahulu, kemudian partai yang kuat merebut kekuasaan, lalu insentif yang kuat untuk koordinasi.Filipina, pemilihan umum terlebih dahulu, oligarki lokal merebut kekuasaan, kemudian beberapa insentif untuk koordinasi.

Sedangkan di Indonesia Rezim otoriter yang kuat membangun birokrasi, warisan masih membatasi akses politisi terpilih terhadap sumber daya dan insentif yang lemah untuk koordinasi.Di akhir sesi Prof. Aspinal menyimpulkan bahwa sebetulnya unsur timbal balik sering kali tidak ada dalam politik tersebut.

"Politik uang yang besar tidak menjamin Jumlah suara yang didapatkan. Hubungannya sangat lemah dan penggunaan politik uang bagi seorang calon kandidat seperti sebuah tiket masuk, If you haven’t money, you can't come.”ujarnya.Pada sesi tanya jawab dalam seminar ini menjadi momen yang dinantikan oleh para peserta. Antusiasme mereka terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan kepada Prof. Aspinall.

Para peserta ingin menggali lebih dalam tentang berbagai isu terkait politik uang. Prof. Aspinall menjawab semua pertanyaan dengan sabar, lugas, dan informatif, sehingga memberikan pemahaman yang lebih mendalam bagi para peserta.Seminar ini diakhiri dengan sesi penutupan oleh moderator yang menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Prof. Aspinall atas paparannya dan kepada seluruh peserta atas antusiasme dan partisipasinya.

"Kami berharap agar seminar ini dapat menjadi wadah bagi para peserta untuk terus belajar dan berdiskusi tentang politik uang di Indonesia," ujar  Dr. Tengku Rika Valentina, M.A.(ar)

Editor : Adrian Tuswandi, SH
Banner InfografisBanner PLN Black Out
Tag:
Bagikan

Berita Terkait
Terkini