Catatan Benni Okva: RKN dan Makrifat Tiga Sumbu Politik

Foto Catatan Benni Okva: RKN dan Makrifat Tiga Sumbu Politik
Foto Catatan Benni Okva: RKN dan Makrifat Tiga Sumbu Politik

 “Martabat politisi itu ada pada tiga sumbu: Integritas, totalitas dan pengorbanan. Tiga sumbu yang bila terjaga akan melahirkan manifesto di tengah kepahitan laku diri politisi kardusan, politisi yang acap mendahulukan birahi hewaniah daripada rasa kemanusiaan”.... 

Tak banyak politisi yang bisa memahami tiga sumbu secara makrifat. Entah mereka yang mengaku nasionalis, religius, atau yang mengagungkan diri sebagai sosialis. Ego acap kali membuat pemahaman sebatas lahiriah dan pelafazan, tanpa mampu membawanya dalam laku tindakan. Kemerosotan moral menjadi tanda, bagaimana tiga sumbu hanya sebatas ornamen di tengah kumalnya peradaban politik.Di masa silam, Agus Salim menjadi satu dari sedikit politisi yang mampu mengamalkan tiga sumbu secara makrifat. Sampai-sampai Kasman Singodimedjo mengucapkan pepatah kuno Belanda; Een leidersweg een lijensweg, Leiden is lijden, yang bermakna jalan memimpin bukan jalan yang mudah. Memimpin itu menderita, saat dirinya bersama Mohammad Roem mengunjungi Agus Salim dikontrakan sempitnya, tahun 1925.

Agus Salim menjaga integritas, totalitas dan penuh pengorbanan. Meski politikus lawas, empat kali jadi menteri luar negeri, dirinya hidup dengan sangat sederhana, kalau tak boleh disebut melarat. Sepanjang hayatnya, Agus Salim tidak punya rumah. Dia mengontrak di gang-gang kecil Jakarta. Kaji Agus Salim putus kalau soal makrifat tiga sumbu.Kekinian, di ruang lingkup yang lebih kecil bernama Sumatera Barat, saya menjadi penyaksi tumbuh kembangnya banyak politikus. Ada yang menggebu di awal tapi kemudian gugur di tengah jepit persaingan, ada yang kemudian mekar, membangun landasan berdiri, lalu tegak dengan ideologi dan gagasan yang dimilikinya. Ada yang mengamalkan tiga sumbu tadi, ada yang setengah-setengah, ada pula yang menciptakan sumbu-sumbu baru, sesuai kehendak dan kepentingan yang dibawanya.

Zaman berubah dengan beragam kehendaknya. Tiga sumbu politik, untuk saat ini tak bisa diukur semata dari kemelaratan seorang politisi, tapi dijengkal dari caranya bergagasan, lalu bergerak untuk mewujudkan gagasan yang dimiliki. Tentu ada pengorbanan di setiap jalan gagasan yang ditempuh, ada integritas yang mesti dijaga dan totalitas yang tak bertepi.Seorang anak muda yang sedang menapak jalan menuju makrifat tiga sumbu politik ialah Rizki Kurniawan Nakasri (RKN), politikus Nasdem yang kini menjabat sebagai wakil bupati Limapuluh Kota. Saya sedang berpersepsi personal, dan tentu tidak menyamaratakan Agus Salim dengan RKN. Jauh panggang dari api. Zamannya berbeda, pergerakannya berbeda, perjuangannya juga tak sama. Agus Salim terlalu besar untuk disamakan dengan siapapun politisi yang ada di era sekarang.

Barangkali tulisan ini akan dianggap sebagai tulisan puja-puji seorang kawan pada kerabatnya. Saya juga politisi Nasdem, sama halnya dengan RKN. Tapi setiap persepsi selalu punya alasan kemunculan, dan saya tidak semata sedang berandai-andai. RKN sedang menyalakan tiga sumbu di tengah segala aral, dan hambatan yang diserak orang-orang yang coba menahan langkahnya.

Bawa Misi Perubahan untuk Limapuluh KotaTiga sumbu politik yang dimiliki itulah yang pada akhirnya membuat Ketua Umum (Nasdem) Surya Paloh memberikan rekomendasi pada RKN sebagai calon bupati. Nasdem fix! Calon bupati Limapuluh Kota adalah Rizki Kurniawan Nakasri, tidak nama lain, yang sebelumnya santer didengungkan.

Segelintir kalangan awalnya pesimis RKN akan mendapatkan rekomendasi Nasdem. Dia dianggap anak kemarin sore jika dibandingkan dengan politisi-politisi kawakan yang mendaftar ke partai restorasi itu. Sebut saja, Irfendi Arbi, mantan bupati Limapuluh Kota yang malang melintang di kancah perpolitikan, ada juga bupati petahana Safaruddin yang mendaftar ke Nasdem. Sejumlah nama lainnya juga politikus senior.Namun Nasdem bukanlah partai yang berkiblat pada nama besar semata. Nasdem partai yang mengedepankan rasionalitas dalam memilih calon-calon kepala daerah. Rekam jejak dicek, survei jadi acuan. RKN, politikus yang dianggap sebagai anak kemarin sore itu jauh di atas para politisi kawakan yang berduyun ingin mendapatkan rekomendasi. RKN sekali lagi, punya integritas, totalitas dan pengorbanan.

Bicara pengorbanan, RKN tak bisa dipungkiri, mengambil posisi sebagai “panglima perang” pada Pemilu yang lalu. Medannya, Kabupaten Limapuluh Kota. RKN membangun basis yang menjadi embrio kebangkitan Nasdem di Limapuluh Kota. Dia berkeliling basis, turut serta ke lapangan, mengumpulkan pemilih dan meyakinkan bahwa Nasdem partai yang tepat untuk menumpangkan harapan perubahan. Ada keringat, energi yang terkuras, hingga akhirnya Nasdem meraih lima kursi di DPRD Limapuluh Kota. Ini sejarah baru bagi partai restorasi.Bakal calon lain tak punya totalitas dan pengorbanan seperti yang RKN lakukan pada Nasdem, bahkan kebanyakan bukan kader. Maaf saja, ada yang datang tiba-tiba, merasa punya kedekatan dan relasi, lalu mencoba menangguk tanpa berpeluh. Tapi sekali lagi, Nasdem partai yang rasional, jajaran pengambil kebijakan tahu, mana yang srigala berbulu domba, mana yang  turut serta berjuang.

Integritas, Totalitas dan PengorbananSebagai politikus muda, RKN punya integritas. Jauh sebelum terjun ke dunia politik, dia pebisnis. Mengelola jaringan travel umrah di bawah naungan perusahaan AET Travel Internasional. Perusahaan yang dibangunnya semenjak duduk di bangku kuliah. Integritaslah yang membuatnya dipercaya jutaan jamaah yang berangkat ke Tanah Suci. Muara integritas adalah kepercayaan publik. RKN memilikinya.

Tak sekadar integritas, RKN memiliki gagasan besar untuk Limapuluh Kota. Gagasan besar itu pula yang membuatnya meneguhkan hati maju sebagai wakil bupati pada Pilkada lima tahun silam. Bersama Safaruddin, RKN memenangkan konstentasi.

Editor : Adrian Tuswandi, SH
Banner Komintau - Menteri
Tag:
Bagikan

Berita Terkait
Terkini