Catatan Benni Okva: RKN dan Makrifat Tiga Sumbu Politik

Foto Catatan Benni Okva: RKN dan Makrifat Tiga Sumbu Politik
Foto Catatan Benni Okva: RKN dan Makrifat Tiga Sumbu Politik

Namun apa lacur, gagasannya untuk memajukan kampung halaman terhalang tembok tinggi. Jabatan wakil bupati tak cukup membuatnya bisa mengeluarkan energi untuk mengabdi. Tangan dan kakinya sebagai wakil bupati “dipotong”. RKN seolah diparkir, mimpinya lebur seiring kepicikan berpikir sekelumit orang.Apakah dengan kepicikan RKN menyerah? Tidak! RKN memilih untuk tidak menciptakan konflik di tubuh pemerintahan Limapuluh Kota. Jika dia pendek akal, bisa saja dia bersorak-sorai, menjadikan perlakuan orang padanya untuk menarik simpati, memainkan politik dizolimi. RKN tidak begitu.

Trah Syeikh Abdul Manan, ulama kesohor Minangkabau itu ikhlas saja, dan paham, jika konflik tercipta, yang rugi masyarakat. Warga Limapuluh Kota. Kalau pemimpinnya sibuk bakalebuik, warga tak terlayani. Dia tidak ingin warga jadi ikut-ikutan terdampak. Ia ambil saja wudhu, salat. Dia memilih berserah, mengadukan semua pada Allah. Dia mengorbankan kepentingan, menahan birahi politik, dan lebih mendahulukan kepentingan publik.RKN kemudian “menanggalkan” benggonya, dia hindari konflik, lalu menceburkan diri pada kerja-kerja kemaslahatan. Dia lebih hapal bau keringat petani, dan penggerak wisata ketimbang wangi pengharum ruangan kantor bupati. Memang, RKN berfokus pada pariwisata dan pertanian. Dua sektor ini adalah nyawa perekonomian Limapuluh Kota. Nyawa yang selama ini tak diurus serius. RKN turun tangan.

Sampai saat ini, RKN tetap konsisten dalam pengabdian. Baginya, menjadi pejabat politik, itu berarti menjadi pelayan. Kepentingan utama adalah kepentingan publik. Sembari menyalurkan energi pengabdiannya, RKN konsisten pula menjaga gelora membangun kampung halaman. Putra Lubuak Jantan, Harau itu menunggu momentum. Layaknya politisi, matinya berkali-kali, lalu hidup lagi. Pilkada serentak kali ini, bisa jadi momentum RKN untuk hidup.Tokoh Masa Depan Luak Nan Bungsu

Tiga sumbu politik yang dijaga RKN, adalah bentuk kedewasaan berpolitik. Dia paham, integritas akan melahirkan kepercayaan, totalitas melekat pada konsistensi, menjadi nilai dan adab. Sementara pengorbanan membuatnya dicatat dalam lipatan sejarah, sebagai politikus yang jauh dari kata karbitan.

Kalau RKN mampu menjaga konsistensinya sebagai politisi yang berintegritas, saya yakin dia adalah tokoh masa depan Luak Nan Bungsu. Berkiprah di nasional. RKN tinggal lagi mengelola emosionalnya, bukankah acap kali politisi muda pada akhirnya redup karena tidak bisa menahan ragam? RKN bisa saja menjadi pambangkik batang tarandam untuk Luak Nan Bungsu di kancah politik nasional.Memang, beberapa nama beken politisi nasional saat ini ada yang berasal dari Luak Nan Bungsu, sebut saja dua nama: Fadlizon dan Jefrie Geovani. Dua politisi handal. Namun keduanya bukan produk pergerakan Limapuluh Kota tulen. Mereka besar dan dapat nama diperantauan.

RKN yang barangkali nantinya akan menjadi politisi Limapuluh Kota yang benar-benar tumbuh kembang dari daerah. Politisi yang memang lahir dari rahim pergerakan tanah kelahirannya. Kuncinya, tiga sumbu politik: Integritas, totalitas dan pengorbanan.Lalu, jika RKN telah memiliki tiga sumbu politik itu, untuk apalagi konstituen berpaling? Apakah kita harus kembali merasakan kepahitan karena salah memilih pemimpin? Apakah kita akan silau lagi dengan gegap gempita penghargaan yang tak berkorelasi dengan kepentingan publik? Penghargaan yang seolah-olah sebagai penutup kegagalan dalam menata daerah?

Saya hakul yakin, pemilih Limapuluh Kota cerdas cendekia, bertulang punggung lurus dan rasional. Bukan orang Limapuluh Kota namanya jika mau masuk lubang dua kali. Lubang yang menganga terang benderang. Pilkada kali ini sepakati saja sebagai ruang penghukuman kepada sosok pemimpin gersang gagasan, yang lebih asyik merias diri dengan menor ketimbang totalitas dalam pengabdian. It’s time perubahan!! (*) 

Editor : Adrian Tuswandi, SH
Banner InfografisBanner - Gor
Tag:
Bagikan

Berita Terkait
Terkini