"Data tersebut dirilis Maret 2024, namun itu adalah realisasi investasi tahun 2023. Jadi, klaim Mahyeldi dan Vasko soal capaian tahun 2024 tidak akurat," jelas Ade Edward.
Ade Edward juga mengkritik metode Mahyeldi-Vasko dalam mengutip data investasi.
Menurutnya, pasangan tersebut menggunakan sumber data yang berbeda untuk mendukung narasi masing-masing.
"Ketika membahas nilai investasi di Sumbar, mereka menggunakan data DPMPTSP. Namun, saat menyebutkan investasi di Kabupaten Solok, mereka memakai data Badan Pusat Statistik (BPS) yang hanya mencakup investasi penanaman modal dalam negeri," tambah Ade.
Fakta ini penting karena data investasi BPS tidak mencatat investasi kecil atau mikro yang sering kali dicatat oleh pemerintah daerah melalui aplikasi seperti Online Single Submission Risk Based Approach.
"Investasi di Kabupaten Solok sebenarnya meningkat dari Rp80 miliar pada 2020 menjadi Rp1,5 triliun pada 2023," lanjutnya.
Sebagai tambahan, realisasi investasi di Sumatera Barat memang terendah dibandingkan provinsi lain di Pulau Sumatera pada 2023.Data dari BPS menunjukkan nilai investasi terbesar di Sumatera adalah Riau dengan Rp48,2 triliun, sedangkan Sumbar hanya mencapai Rp4,4 triliun.
Ade Edward meminta semua pihak, terutama kandidat Pilgub, untuk lebih berhati-hati dan konsisten dalam menyajikan data.
"Ketidakcermatan dalam membaca dan menyampaikan data dapat merugikan masyarakat dan menciptakan persepsi yang salah," tegasnya. (***)
Editor : MS