Cawako Padang dan Politik Digital

Arifki,  pemerhati muda politik pesinis jika pasangan Mahyeldi-Adib mendulang suara signifikan di Pilkada Padang 2018, Sabtu 12/8 di Padang.
Arifki, pemerhati muda politik pesinis jika pasangan Mahyeldi-Adib mendulang suara signifikan di Pilkada Padang 2018, Sabtu 12/8 di Padang.

Calon-calon yang  bakal calon bertarung di Pilkada Kota Padang 2018. Hanya memperkenalkan diri melalui baliho , pertemuan-pertemuan terbatas dan mengandalkan lembaga-lembaga survei untuk membaca elektibitasnya. Cara-cara tersebut cukup konvesional apabila dilakukan di Kota Padang. Kelas menengah kampus yang jumlah besar di Kota Padang berpotensi untuk meramaikan Pilkada Kota Padang. Selama ini pemilh ini jarang dilirik, calon Walikota dan Wakil Kota Padang niscaya masih bergantung dengan pemilih Baby Boomer dan X.

Generasi Y dan Z mempunyai peluang besar untuk memenangkan seorang calon. DKI Jakarta, Bandung dan Surabaya daerah yang sudah membaca potensi kelas menengah ini dalam politik. Dalam politik digital bakal calon harus mempersiapkan kekuatan politknya di ranah media sosial. Calon-calon yang ingin bertarung masih jarang aktif di Facebook, Instragram, WhatsApp, Youtube dan lainnya. Padahal mereka ingin lihat apakah program-program yang ditawarkan bakal calon memenuhi kepentingan mereka.

Hal ini yang jarang dibaca konsultan politik konvensional. Era politik digital orang tidak banyak mengandalkan survei door to door tetapi sudah mulai berbicara: political model, branding dan image. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi bakal calon yang bertarung di Pilkada Kota Padang 2018.***

Editor : Adrian Tuswandi, SH
Banner InfografisBanner PLN Black Out
Tag:
Bagikan

Berita Terkait
Terkini