Selama lebih dari seratus tahun, masyarakat Sumatera Barat mengandalkan Semen Padang untuk membangun berbagai infrastruktur.
Namun, kini harga produknya lebih mahal dibandingkan semen lain di pasaran lokal.
Ironisnya, bahan baku Semen Padang berasal dari sumber terdekat, tetapi harganya kalah bersaing dengan produk dari luar yang memanfaatkan bahan baku lebih jauh.
Kondisi ini membuat Semen Padang tak lagi menjadi pilihan utama masyarakat.
Lebih jauh lagi, model operating holding yang diterapkan Semen Indonesia Group (SIG) gagal mempertahankan kebanggaan rakyat Sumatera Barat.
Padahal, Semen Padang seharusnya tidak hanya berorientasi pada kepentingan holding, tetapi juga menjaga identitasnya sebagai simbol kemajuan industri Indonesia.
Sayangnya, kebijakan ini justru membatasi ruang kreativitas dan inovasi Semen Padang.Fleksibilitas perusahaan untuk bertumbuh dan berkembang semakin terhambat.
Bahkan, dampaknya terhadap ekonomi Sumatera mulai menurun drastis.
Fakta lain memperkuat kegagalan model ini.
Editor : MS