Pariaman, - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Andalas (Unand) di Nagari Campago, Kecamatan V Koto Kampung Dalam, menghadirkan inovasi ramah lingkungan yang bermanfaat bagi petani. Mereka mengolah limbah tongkol jagung menjadi biopestisida nabati dan mikroorganisme lokal (MOL) untuk mengurangi ketergantungan petani pada pestisida kimia sekaligus memanfaatkan limbah organik agar tidak terbuang sia-sia.
Kegiatan bertajuk “Inovasi Biopestisida Nabati & MOL Berbasis Limbah Tongkol Jagung” ini berlangsung di Musholla Olo Pauh, Bukik Caliak, Kamis (7/8/2025). Wali Nagari Campago, Zulhadi, dan Wali Korong Bukik Caliak, Haidil Saputra, turut hadir memberikan dukungan penuh.
Penanggung jawab materi dan demonstrasi, Laila, menjelaskan bahwa tujuan utama program ini adalah mengedukasi masyarakat agar mampu memproduksi dan mengembangkan biopestisida secara mandiri. “Limbah di sekitar kita bisa menjadi solusi bagi masalah pertanian. Biopestisida ini aman untuk tanaman, ramah lingkungan, dan MOL yang dihasilkan mampu memperkaya mikroba tanah,” ungkapnya.Mengolah Limbah Jadi Pelindung Tanaman
Mahasiswa KKN mengajarkan masyarakat cara membuat biopestisida dari tongkol jagung yang dihancurkan, daun pepaya, bawang putih, cabai, serta air cucian beras yang difermentasi untuk menghasilkan MOL. Proses fermentasi berlangsung 7–14 hari sebelum produk siap digunakan sebagai pengendali hama alami dan sumber mikroba baik bagi tanah. Jika mengikuti jadwal, produk dapat digunakan mulai 21 Agustus 2025.
Tim pertanian yang terdiri dari Rafli, Rachel, Alya, dan Windy terjun langsung membantu praktik di lapangan. Mereka memastikan masyarakat memahami manfaat dan teknik aplikasi biopestisida ini pada lahan pertanian maupun kebun rumah tangga.
Manfaat Langsung bagi Petani dan Lingkungan
Biopestisida nabati dan MOL ini memiliki berbagai keunggulan, antara lain:
- Mengendalikan hama tanpa meninggalkan residu berbahaya.
- Meningkatkan populasi mikroba baik dan memperbaiki kesuburan tanah.
- Memanfaatkan limbah tongkol jagung agar tidak mencemari lingkungan.
- Menghemat biaya pertanian dengan mengurangi penggunaan pestisida dan pupuk kimia.
Seorang petani peserta pelatihan mengaku senang dapat memproduksi pestisida alami sendiri. “Selain murah, tidak berbau menyengat, dan membuat tanaman lebih sehat,” ujarnya.
Dukungan dari Masyarakat dan Pemerintah Nagari
Wali Nagari Campago mengapresiasi kegiatan ini sebagai langkah nyata mahasiswa KKN dalam mencetak desa kreatif, mandiri, dan peduli lingkungan. “Kami berharap setelah KKN berakhir, masyarakat tetap melanjutkan pembuatan biopestisida dan MOL ini. Jika berkelanjutan, Campago bisa menjadi contoh desa pertanian ramah lingkungan,” tegasnya.
Dengan inovasi ini, tongkol jagung yang dulunya dianggap limbah kini berubah menjadi pelindung alami tanaman sekaligus penggerak pertanian berkelanjutan di Campago. (***)
Editor : MS
