Bisakah petani menanam padi tanpa bajak, tanpa pupuk mahal, dan tetap panen melimpah? Sawah Pokok Murah (SPM) menjawab: bisa. Inovasi lokal ini bukan sekadar teknik bertani, tapi provokasi intelektual yang menantang dogma lama dan membuka jalan baru menuju pertanian murah, mandiri, dan lestari.
SPM mengajak kita berpikir ulang: apakah efisiensi dan keberlanjutan bisa tercapai tanpa ketergantungan pada input luar? Apakah kearifan lokal bisa menjadi jawaban atas krisis pangan dan ekologi? Di balik praktik yang tampak sederhana, SPM menyimpan kekuatan untuk mengubah arah pertanian kita dengan biaya murah, hasil tetap baik, lingkungan terjaga serta semangat kemandirian.
SPM adalah inovasi pertanian yang sedang berkembang pesat di Sumatra Barat. SPM digagas oleh Ir. Djoni, seorang praktisi pertanian lokal, sebagai solusi untuk meningkatkan hasil panen dengan biaya yang lebih rendah dan ramah lingkungan. Ibu Titiek Soeharto pun telah hadir di Sumatra Barat, Sabtu 21 Juni 2025, untuk melakukan panen raya padi SPM.
Tulisan ini mengupas, apa ituSPM, dimana murahnya SPM. Tidak hanya murah tetapi dapat pula mempertahankan produktifitas lahan dan memperbaiki lingkungan.
Apa Itu SPM?
Teknik budidaya SPM, yaitu: 1) tidak melakukan pengolahan tanah, 2) sawah tidak digenangi tetapi dijaga pada kondisi lembab, 3) jerami tidak dibakar tetapi digunakan sebagai mulsa, 4) benih ditanam umur muda (12-14 hari), satu batang per lobang, dan ditanam lebih dangkal, 5) penggunaan pupuk buatan dikurangi, 6) dibangun saluran air (selebar mata cangkul, sedalam 20 cm, jarak antar saluran 125 cm).
Dimana “Murah”-nya?
Dimana murahnya SPM dibandingkan dengan konvensional? Yaitu dalam hal pembajakan, penggunaan pupuk buatan, pemanfaatan jerami dan pemakaian benih.
Biaya pembajakan pada budidaya konvensional Rp. 2.200.000 per hektar. Meskipun SPM tanpa dibajak, namun SPM butuh biaya untuk pemotongan tunggul padi, penyebaran mulsa jerami, dan pembuatan saluran air. Biaya untuk semua kegiatan tersebut Rp. 1.100.000. Jadi untuk menyiapkan lahan ada penghematan 50 persen pada SPM.
Biaya benih Rp. 400.000 per hektar. Biaya benih dapat dinyatakan hampir sama antara SPM dengan konvensional. Meskipun biayanya sedikit lebih murah pada SPM karena penggunaan benih bisa lebih sedikit.
Biaya pupuk buatan (Urea, SP-36 dan KCL) per hektar pada budidaya konvensional Rp. 2.500.000. Apabila pada SPM hanya digunakan 40 persen dari rekomendasi pada budidaya konvensional, maka ada penghematan biaya pupuk pada SPM sebesar Rp. 1.500.000.
Editor : MS