Sawah Pokok Murah: Ketika Inovasi Lapangan Memprovokasi Kita

Munzir Busniah, Dosen Faperta UNAND. (Foto: Ist)
Munzir Busniah, Dosen Faperta UNAND. (Foto: Ist)

Dengan memperhatikan ketiga komponen biaya tersebut (pembajakan, benih dan pemupukan) maka ada penghematan sebesar lebih kurang 50 persen pada SPM dibanding konvensional. Penghematan tersebut bukanlah hanya sekadar angka, tetapi harapan baru bagi petani kecil.

Apakah Produksi Menurun?

Dengan perubahan cara bercocok tanam pada SPM (tanpa dibajak, pengurangan penggunaan pupuk buatan, dan banyak saluran air), apakah tidak menurunkan produksi?

Budidaya tanaman Tanpa Olah Tanah (TOT) atau minimum tillage telah banyak direkomendasikan pada berbagai sistem budidaya. Demikian pula pada SPM, tanpa dibajak tidak menurunkan produksi. Kajian yang dibutuhkan adalah sampai musim tanam keberapa tanah tersebut tidak perlu dibajak.

Apakah banyaknya saluran air pada SPM menurunkan jumlah rumpun? Tidak. Banyaknya saluran air bisa diatasi dengan mengatur jarak tanam sehingga jumlah rumpun per hektar pada SPM tidak berkurang. Seperti yang berlaku pada sistem tanam Jajar Legowo. Pada Jajar Lewogo meskipun juga ada banyak saluran air, tetapi dengan mengatur jarak tanam, maka jumlah rumpun per hektar tidak berkurang.

Apakah pengurangan pupuk buatan pada SPM menurunkan produksi? Tidak. Dari hasil demplot lapangan, SPM tanpa dipupuk pun tidak menurunkan produksi. Bagaimana bisa terjadi. Mungkin tanah sawah telah jenuh unsur hara, sehingga tanpa dipupuk pun hasilnya masih tetap tinggi. Meskipun varitas unggul cenderung rakus unsur hara. Tentu fenomena ini perlu kajian lanjutan.

Disamping itu, pemberian jerami pada SPM memberikan nilai positif. Nilai positifnya yaitu: 1) jerami mengandung nutrisi alami yang akan kembali ke tanah saat terurai, 2) membantu menetralkan keasaman tanah dan memperbaiki struktur tanah, 3) menekan pertumbuhan gulma, 4) meningkatkan aktivitas mikroorganisme, dan 5) menjaga kelembaban tanah dan mengurangi resiko kekeringan, terutama pada sawah beririgasi kurang baik.

Manfaat Lingkungan dan Sosial

SPM juga memberikan nilai positif dari aspek lingkungan. Seperti tidak membakar jerami menciptakan udara bersih. Penggunaan jerami sebagai mulsa memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan aktifitas mikroorganisme. SPM memanfaatkan sumberdaya lokal yang tidak termanfaatkan, yaitu jerami yang biasanya hanya dibakar.

SPM Sebagai Provokasi Intelektual

Tentu SPM masih menyisakan berbagai pertanyaan yang membutuhkan kajian lanjutan. Antara lain yaitu: 1) seberapa lama sawah tidak dibajak tidak mempengaruhi produksi, 2) seberapa lama dan seberapa besar pemupukan dapat dikurangi, 3) apakah jerami dapat mencukupi untuk dijadikan mulsa.

SPM bukan metode biasa. Ia menggugat cara lama dan mengajak kita berpikir ulang tentang bertani. Selamat kepada SPM yang telah membangkitkan perhatian kita untuk bersawah, terhadap petani, pemanfaatan sumberdaya lokal, serta menjaga ketahanan pangan dan pelestarian lingkungan. (***)

Noted: Artikel ini telah terbit di Harian Haluan Jumat 15 Agustus 2025.

Editor : MS
Banner InfografisBanner - Gor
Bagikan

Berita Terkait
Terkini