Agenda hari penutup untuk pertunjukan seni akan dimulai dengan pertunjukan dari Komunitas Seni Hitam Putih yang berjudul “Surat Tanpa Alamat”. Kemudian terakhir diakhiri dengan pertunjukan dari Jaguank dengan judul “Narasini”.
Fajry Chaniago melanjutkan, “Semangat Pekan Nan Tumpah ini adalah semangat bersama dari banyak komunitas, tidak hanya Komunitas Seni Nan Tumpah. Bagi kami, Pekan Nan Tumpah adalah ruang temu.
Sebagaimana enam penyelenggaraan sebelumnya, Pekan Nan Tumpah 2025 dirancang tidak untuk menawarkan pemahaman. Ia menawarkan keterlibatan.
Ia mengajak kita meninggalkan keinginan untuk paham, dan mulai bertanya dengan cara yang lebih jujur. Karena yang tersisa dari seni hari ini bukan tafsir tunggal, tapi getaran.Dan kadang, dari salah paham yang paling dalam, justru lahir percakapan yang paling penting. (***)
Editor : MS