Momentum Transformasi Pertanian dengan Kehadiran MBG

Munzir Busniah, Dosen Fakultas Pertanian Universitas Andalas.(Foto: Ist)
Munzir Busniah, Dosen Fakultas Pertanian Universitas Andalas.(Foto: Ist)

Kelembagaan. Untuk menjawab kebutuhan MBG, dapat disimpulkan bahwa petani tidak bisa bekerja sendiri-sendiri. Petani harus terorganisasi dalam kelompok yang mampu menyusun rencana produksi, menjamin mutu, dan memenuhi permintaan harian SPPG. Bentuk kelembagaan paling realistis adalah koperasi. KMP (Koperasi Merah Putih) adalah wadah petani yang paling tepat untuk memenuhi kebutuhan SPPG.

KMP berperan untuk: mengorganisir produksi petani; menyediakan layanan pascapanen seperti sortasi, pencucian, pemotongan; menjamin kualitas dan kontinuitas pasokan; mengelola logistik dan distribusi ke SPPG. KMP bukan sekadar koperasi biasa. KMP adalah koperasi generasi baru yang menggabungkan modal sosial, modal budaya, dan modal teknologi.

Teknologi Pascapanen dan Logistik. Tanpa teknologi pascapanen, petani hanya akan menjadi pemasok mentah serta tidak akan menikmati nilai tambah produknya. Maka dari itu dibutuhkan: teknologi pengolahan (sortasi, pencucian, pemotongan); teknologi penyimpanan (cold storage dan pengemasan); teknologi distribusi (kendaraan berpendingin dan sistem logistik digital).

Pola Pikir Petani sebagai Pahlawan Gizi. Transformasi tidak akan terjadi tanpa perubahan pola pikir. Petani harus melihat dirinya bukan hanya sebagai penghasil komoditas, tetapi sebagai produsen gizi. Petani harus menjadi aktor utama dalam pembangunan manusia Indonesia. Perlu dibangun narasi baru bahwa petani adalah pahlawan MBG. Bahwa dari karya nyata petani akan lahir generasi sehat dan cerdas. Petani dengan KMPnya adalah benteng kedaulatan dan keadilan sosial. Bukankah tangan petani yang menanam sayur dan memelihara ayam itu adalah tangan yang membentuk masa depan anak-anak kita?

Momentum Transformasi Pertanian

MBG memberi peluang langka untuk mentrasformasi pertanian nasional. Kehadiran MBG memaksa petani membangun rantai pasok yang efisien, adil, berbasis komunitas. MBG mendorong pengintegrasian produksi, pengolahan, dan distribusi dalam satu ekosistem.

Lebih jauh, MBG bisa menjadi katalis untuk: meningkatkan nilai tambah produk lokal; mengurangi ketergantungan pada pangan impor; membangun ekonomi rakyat berbasis koperasi; mewujudkan ketahanan pangan yang berkeadilan.

Dari Piring Membangun Kedaulatan

MBG adalah program makan, tetapi dampaknya jauh melampaui dapur. MBG menyentuh pertanian, koperasi, teknologi, pendidikan, dan kebijakan publik. MBG adalah jembatan antara visi besar dan tindakan nyata. MBG adalah panggilan untuk membangun sistem pangan yang berpihak pada rakyat.

Untuk menjadikan MBG sebagai momentum emas transformasi pertanian nasional, maka mari pastikan bahwa setiap piring MBG adalah hasil kerja sama petani, nelayan, dan koperasi lokal. Wujudkan Indonesia sehat, berdaulat, dan bermartabat yang dimulai dari piring, sawah, dan semangat gotong royong.

Itulah Indonesia Emas yang sesungguhnya, bukan hanya kaya, tetapi berdaulat dan berkeadilan. (***)

Editor : MS
Bagikan

Berita Terkait
Terkini