Padang, - Rusaknya sistem jaringan irigasi Koto Tuo dan Gunung Nago pasca-banjir bandang telah memicu krisis pertanian yang serius di Kota Padang.
Akibatnya, ribuan hektare sawah terancam kekeringan dan gagal panen, yang berdampak langsung pada stabilitas harga gabah dan ketahanan pangan lokal.
Oleh karena itu, langkah pemulihan yang komprehensif menjadi sangat mendesak, tidak hanya dari sisi infrastruktur tetapi juga perlindungan ekonomi bagi petani.
Anggota DPRD Padang, Mulyadi Muslim, menegaskan bahwa pembenahan kerusakan ini tidak bisa lagi ditangani oleh pemerintah daerah saja.
"Pertanian adalah sektor vital dan penopang program swasembada pangan. Dengan bencana ini, banyak petani kita yang terdampak berat," ungkapnya.
Ia menambahkan, perjuangan untuk mendapatkan alokasi anggaran dari pemerintah pusat akan dilakukan melalui anggota DPR RI Dapil Sumbar. Di sisi lain, solusi jangka pendek seperti asuransi pertanian bisa menjadi jaring pengaman bagi petani yang terdampak.Dampak Luas dan Ancaman Gagal Panen
Berdasarkan data dari Dinas Pertanian Padang, kerusakan irigasi ini mengancam sekitar 2.912,16 hektare lahan pertanian yang tidak akan lagi dapat terairi.
Total luas sawah yang terdampak secara keseluruhan mencapai 4.358 hektare, dan lebih dari 50 persen di antaranya diprediksi akan mengalami kekeringan.
Akibatnya, ancaman gagal panen bukan lagi sekadar wacana, tetapi sebuah kenyataan yang harus segera diantisipasi. Situasi ini tentu akan menekan harga gabah di pasaran dan merugikan seluruh rantai pasok.
Bendungan Koto Tuo yang jebol di bagian intakenya, misalnya, telah memutus pasokan air ke sekitar 900 hektare sawah di Kecamatan Koto Tangah.
Editor : Editor