Aceh, - Ibrahim, perantau Sungai Sariak, Pariaman di Kuala Simpang sejak pagi sudah sibuk. Sesiang ini dia jadi kasir di rumah makan miliknya, Dua Putri, dekat mulut jalan ke RSUD, Kuala Simpang, Aceh Tamiang.
Kami memesan tiq nasi bungkus, tapi baru satu, nasi habis. Nasi gantung! Dimasak lagi dan itu memakan waktu, apalagi dalam jumlah banyak.
“Berapa lama lagi nasi masak?” Kasir bertanya.
“Satu jam lagi.”
“Bapak ini perlu tiga bungkus saja.”
Sudah dua kali saya ke Tamiang dan selalu ramai.
“Kami sudah buka sejak 10 hari lalu,” kata Ibrahim. Ia bekerja keras mengeluarkan lumpur dan pada 23 Desember langsung jualan. Sejak itu gak putus-putusnya permintaan, di tengah banyaknya orang bekerja. Saat rumah makan lain belum buka.
Pada Kamis (1/1/2025) seperti sebelumnya lesanan banyak sekali. Sudah memasak beberapa kali, habis. Masak lagi dan saya tak bisa menunggu.
Perantau asal Minang banyak di Kuala Simpang dan Langsa. Mereka banyak juga yang jadi korban. Salah seorangbya Ibrahim dari RM Dua Putri itu.
Editor : Editor

