10 Nagari Canangkan Gerakan Masyarakat Adat Dalam Penanggulangan Bencana Salingka Marapi

Tokoh adat, pemerintah daerah, dan perwakilan 10 nagari menghadiri pencanangan Gerakan Masyarakat Adat dalam Penanggulangan Bencana Salingka Marapi di Balai Adat KAN Nagari Lasi, Kabupaten Agam. (Foto: Ist)
Tokoh adat, pemerintah daerah, dan perwakilan 10 nagari menghadiri pencanangan Gerakan Masyarakat Adat dalam Penanggulangan Bencana Salingka Marapi di Balai Adat KAN Nagari Lasi, Kabupaten Agam. (Foto: Ist)

Agam, - Pemeliharaan lingkungan berbasis kearifan lokal adalah pendekatan pelestarian alam dengan memanfaatkan nilai, pengetahuan, dan praktik tradisional yang diwariskan turun-temurun untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Hal inilah yang digagas oleh Ikatan Keluarga Ampek Angkek Tjanduang (IKAT) Kota Padang, dengan mengembalikan peran tigo tungku sajarangan dan tali tigo sapilin yang ada di Nagari.

Kegiatan yang bertajuk Pencanangan Gerakan Masyarakat Adat dalam Penanggulangan Bencana Salingka Marapi itu, digelar di Balai Adat KAN Nagari Lasi Kecamatan Canduang Kabupaten Agam, Minggu (18/1/2026).

Hadir dalam pertemuan tersebut, Bupati Agam yang diwakili Staf Ahli Bupati Drs. Dandi Pribadi, MSi. Ketua Kerukunan Keluarga Luhak Agam (KKLA) Kota Padang yang juga sebagai Kepala BPSDM Sumbar Drs. Barlius, MM., Kepala Dinas Kehutanan Prov. Sumbar Dr. Ferdinal Asmin, S.STP. MP., Kepala Dinas Lingkungan Hidup Prov. Sumbar Tasliatul Fuaddi, S.Hut. MH. Ketua PMI Sumbar, mantan Bupati Agam H. Aristo Munandar Dt. Bagindo Kayo, Ketua IKAT Kota Padang Drs. H. Marjanis M.Pd., Camat Ampek Angkek dan Camat Canduang, Kepala KUA Ampek Angkek dan Canduang, Ketua LKAAM Kecamatan Ampek Angkek dan Canduang, serta Wali Nagari, Ketua KAN, Bamus Nagari se Kecamatan Ampek Angkek dan Canduang.

Acara yang dihadiri oleh niniak mamak dari 10 Nagari se Kecamatan Ampek Angkek dan Canduang itu, diawali dengan sambah manyambah antara pihak sipangka dengan tamu dan undangan yang bertempat di halaman sebelum tamu menaiki Balairung Adat.

Setelah para niniak mamak serta tamu dan undangan menaiki Balairung, Ketua IKAT Kota Padang Marjanis menyampaikan Laporan pelaksanaan kegiatan. Dalam kesempatan itu, dia melaporkan bahwa awal mula munculnya kegiatan Pencanangan Gerakan Masyarakat Adat ini, berawal dari seringnya terjadi bencana di wilayah Sumatera Barat khususnya di daerah sekitar gunung Marapi.

"Kegiatan pemeliharaan lingkungan yang berbasis kearifan lokal sudah dimulai di Nagari Lasi Kecamatan Canduang sejak dua tahun lalu. Melihat program ini sangat strategis, lalu dengan kolaborasi IKAT Kota Padang bersama KAN Lasi ingin menerapkan Gerakan Masyarakat Adat di 10 Nagari yang ada di dua Kecamatan, yaitu Ampek Angkek dan Canduang" jelas Marjanis.

Selanjutnya Ketua KAN Lasi AKBP. DR. Jamalul lhsan Dt. Sati, menyampaikan paparan terkait pelaksanaan pemeliharaan lingkungan salingka Nagari yang berbasis kearifan lokal, dengan mengembalikan peran tigo tungku sajarangan dan tali tigo sapilin yang ada di Nagari.

Dalam paparannya, Ketua KAN Lasi mengatakan bahwa dia telah meminta fatwa kepada Limbago Adat Ninik Mamak Nan Sapuluah, tentang Filisofi dan Kebijakan ninik mamak untuk dijadikan acuan.

"Kami telah melakukan Babuek Arek sebagai praktek hukum adat. Sebanyak 15 kesepakatan telah dibuat, seperti penyelesaian hutang adat, melarang berburu hewan tertentu, larangan menebang kayu tertentu serta wajib menanami bibit pohon atau tanaman hutan di bukit dan lembah dengan tanaman tertentu," jelas Ketua KAB Lasi.

Dikatakan, bahwa berikutnya diterapkan penerapan sanksi adat bagi para perambah hutan dan penembak burung, berupa denda dan sanksi adat Salingka Nagari. Dalam pelestarian lingkungan, diwajibkan untuk menanam pohon kepada murid baru masuk sekolah dasar dan setiap pengantin baru.

Editor : Editor
Banner InfografisBanner JPS - BolaBanner - Gor
Bagikan

Berita Terkait
Terkini