Kekalahan Beruntun dan Pergantian Pelatih Semen Padang FC 2026 Kenangan Suporter Angker yang Kini Hening

Romelton.
Romelton.

‎Ke-30 Madura United 0-1 Kandang

Kebobolan tiga laga terakhir saja mencapai 6 gol tanpa balas. Yang lebih menyakitkan, dua dari tiga kekalahan itu terjadi di hadapan pendukung sendiri di Stadion Haji Agus Salim. “Apa yang kita inginkan tak tercapai. Kecewa pasti. Suporter, pemain, semua kecewa dan semua sudah perbaiki attacking, defending, transisi.” ujar Pelatih Imran Nahumarury usai Kabau Sirah dibungkam Persijap Jepara 0-2 di GOR Haji Agus Salim 20 April 2026 lalu.Kekecewaan itu berlanjut. Bahkan setelah lima kekalahan beruntun, Imran dengan jujur meminta maaf kepada seluruh suporter dan masyarakat Sumatera Barat.

Krisis panjang tak lepas dari dinamika di bangku kepelatihan. Pada awal Maret 2026, manajemen SPFC mengambil keputusan dramatis memecat Dejan Antonic. Pelatih asal Serbia itu dipecat hanya berselang beberapa jam setelah Kabau Sirah bermain imbang 0-0 melawan PSIM Yogyakarta di kandang sendiri. Keputusan ini sontak mengejutkan. Manajemen melalui pernyataan resmi menyebut hasil imbang tersebut "sangat mengecewakan" dan "menjadi bahan evaluasi serius" .Hasil yang sangat mengecewakan pada pertandingan hari ini menjadi bahan evaluasi serius bagi manajemen. Untuk itu, manajemen memutuskan melakukan pergantian pelatih demi perbaikan dan peningkatan performa tim ke depan kata Penasihat Tim Semen Padang FC, Andre Rosiade

‎Dejan Antonic sendiri sebenarnya sempat mengungkapkan kekecewaannya atas penyelesaian akhir anak asuhnya. Namun apalah daya, dominasi tanpa gol tidak pernah cukup di sepak bola profesional. Manajemen bergerak cepat dan menunjuk Imran Nahumarury sebagai pelatih kepala baru.

‎Harapan pun digantungkan pada pelatih baru. Tapi kenyataan berkata lain. Di bawah asuhan Imran, justru catatan lima kekalahan beruntun yang terukir. Satu per satu lawan datang dan pergi dengan membawa pulang poin dari Stadion Haji Agus Salim.

‎Kini, Semen Padang hanya mengoleksi 20 poin dari 30 pertandingan dan masih tertahan di peringkat ke-17 . Dengan menyisakan empat laga lagi, peluang untuk keluar dari zona degradasi dihitung sangat tipis.Secara kalkulasi matematika memang demikian (dekat dengan degradasi). ‎

Tapi di balik semua angka dan statistik, ada satu yang lebih dalam dari sekadar papan klasemen kenangan tentang suporter yang dulu begitu angker.Masyarakat Sumatera Barat dan pencinta sepak bola nasional tentu tak akan melupakan bagaimana dulu Stadion Haji Agus Salim begitu ditakuti lawan-lawannya. Bukan hanya karena kualitas tim, tetapi karena ribuan suporter yang datang dengan setia mendukung di saat tim menang maupun kalah .

‎Namun akhir-akhir ini, Gor Haji Agus Salim Padang terasa tak lagi sama. Kini, Semen Padang FC sendiri lagi, tak ada suara gemuruh, bunyi terompet dan dentuman gendang di stadion Agus Salim, Padang. Selama beberapa dekade tim kebanggaan urang awak ini selalu tampil dengan dukungan suporter katanya fanatik. Sekarang mereka sudah pergi dan tinggalkan pemain berjuang sendiri menghadapi kompetisi yang keras.

Padahal, sejarah mencatat bagaimana suporter Semen Padang rela melakukan apa pun untuk tim kebanggaannya. Kisah almarhum wartawan senior Zatako yang dipukuli pendukung PSDS Deli Serdang di Lubuk Pakam karena dianggap "dukun punya kesaktian" saat mendukung SPFC, adalah salah satu legenda yang menunjukkan bagaimana fanatisme tak kenal kompromi.

‎Dulu, suporter datang ketika tim menang. Dan yang lebih penting, mereka tetap setia ketika tim kalah. Tapi kini, kekalahan beruntun seolah menjadi ujian iman.

Editor : Editor
Banner Komintau - Menteri
Bagikan

Berita Terkait
Terkini