PTS Terjepit, LLDIKTI Jangan Diam: Saat Jalur Mandiri Membesar, Keadilan Pendidikan Dipertanyakan

Dr. H. Febby Dt. Bangso, S.H., S.St.Par., M.Par., QRGP, CFA, Ketua Gerakan Masyarakat Minang Peduli Pendidikan (GMMPP). (Foto: Ist)
Dr. H. Febby Dt. Bangso, S.H., S.St.Par., M.Par., QRGP, CFA, Ketua Gerakan Masyarakat Minang Peduli Pendidikan (GMMPP). (Foto: Ist)

Oleh: Dr. H. Febby Dt. Bangso, S.H., S.St.Par., M.Par., QRGP, CFA, Ketua Gerakan Masyarakat Minang Peduli Pendidikan (GMMPP)

Setiap tahun, cerita itu berulang. Anak-anak muda di Sumatera Barat menunggu dengan harap dan cemas—apakah mereka berhasil masuk kampus negeri atau tidak. Dari jalur prestasi, tes nasional, hingga akhirnya satu pintu terakhir: jalur mandiri.

Dan di situlah, banyak harapan dipertaruhkan.

Di Universitas Negeri Padang, tren pertumbuhan mahasiswa dalam lima tahun terakhir menunjukkan peningkatan yang konsisten. Data yang tersedia dari berbagai rilis kampus dan pemberitaan menunjukkan bahwa jumlah mahasiswa UNP pernah berada di kisaran 38 ribu hingga lebih dari 47 ribu mahasiswa, dengan penambahan mahasiswa baru setiap tahun di kisaran 10 ribu hingga 12 ribu orang.

Dalam dua tahun terakhir, lonjakan itu semakin terlihat.

Tahun 2024, UNP menerima sekitar 12.008 mahasiswa baru.

Tahun 2025, meningkat menjadi sekitar 12.873 mahasiswa baru.

Dari jumlah tersebut, sekitar 4.141 mahasiswa diterima melalui jalur mandiri.

Angka ini penting dicatat—bukan sekadar sebagai statistik, tetapi sebagai arah kebijakan.

Karena ketika jalur mandiri mengambil porsi besar, maka kita sedang melihat pergeseran: dari sistem berbasis seleksi nasional menuju sistem yang semakin ditentukan oleh kebijakan internal kampus.

Editor : Editor
Banner Komintau - Menteri
Bagikan

Berita Terkait
Terkini