“Ini jalan logistik, jalan lintas tengah. Bapak nggak bisa anggap ringan,” katanya.
Pengawasan hari itu memperlihatkan satu hal yang mulai dikenal publik tentang sosok Zigo Rolanda: lembut dalam bicara, tetapi telak dalam menekan persoalan.
Ia tidak memilih marah-marah di depan publik. Namun setiap kalimatnya menempatkan tanggung jawab tepat pada sasarannya.
“Pemerintah saja yang disalahkan. Yang lalai itu bapak sebagai rekanan, kan,” ucapnya.
Kalimat singkat itu menjadi penutup yang paling terasa keras. Bukan karena nadanya tinggi, melainkan karena kebenarannya sulit dibantah.Zigo Rolanda tak banyak memainkan emosi saat berdialog dengan rekanan. Ia hanya bertanya, mendengar, lalu menekan dengan fakta-fakta di lapangan.
Dari situlah publik melihat satu hal: lembut cara bicaranya, tetapi telak ketika menyentuh tanggung jawab. (***)
Editor : Editor

