Padang, - Ketua PDIP Sumbar, Alex Indra Lukman, menyitir ulang perbedaan pilihan politik yang kerap terjadi antar tokoh Minang dalam berbagai kontestasi.
Namun tegas dia, perbedaan itu hanya berlaku saat perebutan kekuasaan, dan tidak boleh memutus ikatan silaturahmi serta perjuangan bersama demi kepentingan daerah dan masyarakat.
“Kita boleh berbeda prinsip. Kita boleh berbeda ide. Kita boleh berbeda gagasan. Tapi harusnya kemudian hubungan emosional, hubungan silaturahmi, tetap terjaga,” ujar Alex saat membuka peringatan “Bulan Agustus Bulan Bung Hatta: Membaca Ulang Perjalanan Kebangsaan Minangkabau” di Kantor DPC PDIP Padang, kawasan Ulak Karang, Minggu malam.
Peringatan dirangkai dengan pagelaran naratif musikal karya budayawan Sumbar Edy Utama, sekaligus menyajikan pidato politik Halida Hatta, putri proklamator Bung Hatta.
Alex pun mempraktikkan langsung semangat berbagi panggung itu dengan meringkas sambutannya, memberi kesempatan berpidato kepada Wali Kota Padang Fadly Amran yang baru mengonfirmasi kehadiran sesaat sebelum acara dimulai.
“Saya Ketua PDIP Sumbar. Pak Fadly Ketua Nasdem Sumbar. Dalam banyak hal agenda tidak sama. Namun sewajarnya kita berbagi panggung dan waktu,” ungkap Alex.Sikap itu diambil dari pesan dua gurunya: ayahnya, mantan Sekretaris PDIP Sumbar Yohanes Lukman, dan politisi senior Taufik Kiemas.
“Dari almarhum ayah: berpolitik perjuangkan hak minoritas dengan menghargai mayoritas. Dari Pak Taufik: buat apa menang 5-0, kalau 2-1 pun sudah menang,” kenang Alex.
Halida Hatta dalam pidatonya menekankan makna kemerdekaan yang harus diwujudkan melalui kemerdekaan berpikir dan kemandirian.
“Indonesia merdeka, tetapi kita juga harus bisa menjamin bahwa kita merdeka dalam berpikir,” tegasnya.
Editor : Editor
