Rakernas MDMC, Irman Gusman: Kepercayaan Publik Jadi Modal MDMC Perluas Jejaring Kemanusiaan

Senator RI sekaligus Ketua Dewan Penasehat MDMC Sumbar Irman Gusman menjadi pembicara utama dalam Rakernas MDMC PP Muhammadiyah di Sleman, Yogyakarta, Sabtu (12/9/2026). (Foto: Ist)
Senator RI sekaligus Ketua Dewan Penasehat MDMC Sumbar Irman Gusman menjadi pembicara utama dalam Rakernas MDMC PP Muhammadiyah di Sleman, Yogyakarta, Sabtu (12/9/2026). (Foto: Ist)

Yogyakarta, - Senator RI asal Sumatera Barat Irman Gusman mendorong Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) memastikan jejaring relawan, logistik, layanan kesehatan, dan pembiayaan siap digerakkan sebelum krisis.

Melalui gagasan MDMC 4.0, ia mengajak Muhammadiyah mengubah kepercayaan publik menjadi kemampuan nyata untuk melindungi warga dan mempercepat pemulihan kehidupan mereka.

Gagasan itu disampaikan Irman saat menjadi keynote speaker dihadapan ratusan peserta, terdiri atas pimpinan dan anggota LRB-MDMC PP Muhammadiyah serta pengurus MDMC wilayah dari seluruh Indonesia, untuk memperkuat arah kerja penanggulangan bencana Muhammadiyah yang diselenggarakan di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Seni dan Budaya, Sleman, Yogyakarta, Sabtu (12/9/2026).

Pada saat pembukaan Rakernas hari Jumat (11/9/2026), diisi dengan sambutan Ketua LRB-MDMC PP Muhammadiyah H. Budi Setiawan, S.T., pidato Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Prof. Dr. Pratikno, M.Soc.Sc., serta amanah dan pembukaan Rakernas oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si.

Irman Gusman yang saat ini juga sebagai Ketua Dewan Penasehat MDMC Sumatera Barat menegaskan bahwa posisi MDMC menjadi semakin strategis karena berada di bawah payung besar Muhammadiyah, organisasi yang selama ini memiliki akar kuat di tengah masyarakat dan tingkat kepercayaan publik yang tinggi.

Sementara itu jejaring menjadi faktor penting karena penanggulangan bencana tidak mungkin dilakukan oleh satu lembaga saja.

Pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, komunitas, hingga masyarakat di tingkat akar rumput memiliki sumber daya dan kapasitas yang dapat saling melengkapi.

“Kepercayaan publik adalah modal sosial. Namun kepercayaan itu harus diubah menjadi kapasitas, kemampuan menghubungkan sumber daya, mengambil keputusan, dan menggerakkan bantuan secara cepat ketika masyarakat membutuhkan,” ujar Irman.

Urgensinya terlihat dalam World Risk Index 2025 yang menempatkan Indonesia pada peringkat ketiga dari 193 negara, dengan skor 39,80.

Dan Filipina menempati peringkat pertama dengan skor 46,56, disusul oleh India di posisi kedua dengan skor 40,73. Indeks ini mengukur risiko melalui paparan bahaya dan kerentanan masyarakat, termasuk keterbatasan kemampuan menghadapi serta beradaptasi terhadap bencana.

Editor : Editor
Banner JMSI 2026Banner - Berita Duka Bpk AzwarBanner Relasi Publik
Bagikan

Berita Terkait
Terkini