[caption id="attachment_2809" align="aligncenter" width="1280"]
2,5 jam terombang-ambing di laut, speedboat hilang arah, gelombang tinggi mengincar ditengah hujan badaiz kisah nyata antara hidup dan mati, Kamis 17/8 malam perairan Sebatik-Tarakan.[/caption]
PengantarKamis – Jumat (17-18 Agustus 2017) lalu, sebuah speadboat berisi 12 penumpang dari rombongan Kemendes PDTT, dari Sebatik ke Tarakan, usai memperingati upacara detik-detik proklamasi di beranda negara Sebatik, terkatung-katung terombang-ambing diperairan laut, kehilangan arah, ini kisah nyata yang disadur dari Harian Rakyat Sumbar karya Firdaus Abie, secara bersambung.
SPEEDBOAT terus menuju ke laut. Matahari telah jauh condong ke barat, sebentar lagi “tenggelam” di laut. Bang Akbar melarikan speedboat dalam kecepatan penuh. Ia langsung tancap gas, setelah menerima telpon dari anaknya.Benturan bagian bawah speedboat dengan permukaan laut sangat terasa. Bunyinya keras sekali. Tak satu pun penumpang yang bersuara. Hening, kecuali suara benturan air laut dan bagian bawah speedboat. Butuh tenaga ekstra untuk bertahan di tempat duduk agar tidak bergeser posisi.
Saya menatap sekeliling. Semua seakan tak bergerak, hanya ada tarikan nafas. Saya juga. Perasaan cemas mulai menyerang, lalu berganti menjadi rasa takut. Tali baju pelambung saya ikatkan erat-erat. Saat masih di pelabuhan, baju pelampung persis bertumpuk dekat tempat duduk saya. Sengaja saya mencari yang besar, seukuran tubuh saya.Kecepatan speedboat makin tinggi. Membelah lautan menyongsong petang. Jingga langit mengiringi mentari “tenggelam” ke laut, di ujung barat. Suasana di speedboat tetap tanpa suara penumpang.
Saya terjebak dengan perasaan sendiri. Ada gelisah menyeruak diri. Dada saya bergemuruh. Debarnya kian lama semakin kencang. Saya kembali menatap sekeliling. Tetap tak ada yang bersuara. Tak ada yang bergerak. Tak ada yang bercanda. Semua diam. Sibuk dengan pikiran dan perasaan masing-masing.Ketika matahari sudah hilang “di laut” di ujung barat, warna jingga pun berganti hitam, hari mulai gelap. Gerimis pun turun. Speedboat terus bergerak dalam kecepatan tinggi, lalu berlahan terasa kecepatannya berkurang. Tak lama kemudian berhenti dan mesin pun mati.
“Tunggu sebentar, hidupkan lampu dulu,” kata bang Akbar, sang jurumudi.Ia mencari pisau lipat, kemudian meraut kabel di samping kanan kemudi, lalu disambung. Lampu pun hidup. Saya memperkirakan, lampunya lebih besar sedikit dari lampu sepeda motor. Itu pun hanya satu di depan.Setelah lampu hidup, perjalanan dilanjutkan. Kecepatan speedboat kembali seperti semula. Langsung dalam kecepatan tinggi. Kegelapan malam seakan membungkus laut. Cahaya lampu hanya menerangi bagian depan speedboat. Sekali-sekali bang Akbar mengeluarkan kepalanya ke bagian atas speedboat. Bagian atas dibolongi sedikit lebih besar dari tubuhnya. Dari sana ia membantu penerangan dengan senter di kanan, kemudi di kiri.Saat gelap semakin pekat, hujan pun turun. Perasaan saya semakin tak menentu. Debar jantung saya semakin kencang. Saya teringat telpon seluluar yang sudah diisi, menggunakan powerbank Alam Kribo.
Saya buka al-quran, lalu saya mengaji. Suara saya tertahan. “Mas, periksa minyak. Jangan sampai kosong,” kata bang Akbar. Tak ada jawaban dari si Mas. Bang Akbar mengulangi. Juga tak ada jawaban. Saya mendongok ke belakang. Saya tak menemukan di mana si Mas duduk. Saya tuntaskan baca al-quran.“Mas, minyaknya aman, mas?” tanya saya setengah berteriak.
Teriakan saya disambung penumpang lain yang duduk dibagian belakang. Ada pergerakan. Si Mas memperiksa derigen biru dekat mesin, “aman..” balasnya.Penumpang di belakang pun menyambung. Saya kemudian melanjutkan ke bang Akbar. “Aman, bang” kata saya.
“Perhatikan setiap saat mas. Jangan lengah,” pintanya.“Perhatikan mas, jangan lengah” teriak saya menyambung. Penumpang lain pun kemudian melanjutkan.
Editor : Adrian Tuswandi, SH