Kisah Nyata, Delapan Jam Terapung di Perairan Sebatik-Tarakan, 2,5 Jam Arungi Gelombang Ganas

2,5 jam terombang-ambing di laut, speedboat hilang arah, gelombang tinggi mengincar ditengah hujan badaiz kisah nyata antara hidup dan mati, Kamis 17/8 malam perairan Sebatik-Tarakan.
2,5 jam terombang-ambing di laut, speedboat hilang arah, gelombang tinggi mengincar ditengah hujan badaiz kisah nyata antara hidup dan mati, Kamis 17/8 malam perairan Sebatik-Tarakan.

Hari semakin gelap. Hujan kian deras. Anginpun berhembus kencang. Ombak bergulung semakin besar. Bang Akbar mengambil helm di samping tempat duduknya, lalu dipasang. Ia lalu kembali mengeluarkan sebagian tubuhnya, persis di bagian atas tempat duduk mengemudikan speedboat.Ia tak lagi duduk diganjal tumpukan jaket pelampung yang tidak dipakai. Ia justru berdiri di tempat duduknya. Matanya liar melihat sekeliling di laut. Senter di tangan kanan, kemudi di kiri. Sekali-kali ia mengendalikan kemudi menggunakan kaki kiri. Saya semakin ngeri.

Dalam kondisi tak menentu, berulang kali speedboat berhenti di tengah gelombang yang bergulung semakin tinggi. Lampu sering mati. Sambungan kabel yang semula disambung, tiba-tiba lepas. Begitu berulang kali.Setelah disambung, speedboat kembali bergerak, namun kecepatannya tak sekencang saat baru keluar dari pelabuhan. Geraknya pelan, tepatnya speedboat lebih sering dipermainkan gelombang tak bersahabat karena hujan badai di tengah laut. Sepertinya speedboat tak kuat menerjang ombak.

“Bang, kayaknya speedboat kita putar-putar di sini sejak sejak tadi,” Alam Kribo, Staf Perencanaan Umum Setjen Kemendes PDTT, memecah kecemasan malam.Saya menatap kepada Alam. Ia duduk dibarisan ketiga, tetapnya di belakang Datuk Febby, staf khusus Menteri Desa PDTT. Alam kemudian memperlihatkan GPS di tabletnya kepada saya.

“Kita putar-putar di sini saja dari tadi, udah lebih satu jam,” katanya. Saya terkejut. Makin takut.“Tak mungkin,” bantah bang Akbar.

“Iya bang,” balas Alam.“Yang lain ada GPS ndak? Coba sini, cocokkan GPS kalian untuk panduan,” kata Nugroho Notosutanto, (Kabag Perencanaan Umum Setjen Kemendes PDTT). Lelaki itu duduk persis disamping kiri bang Akbar, atau di depan Datuk Febby.

“Benar, pak. Kini mutar-mutar di sini saja dari tadi,” kata Julie Ervina, Tina dan Boby, serempak. Ketiganya Staf Perencanaan Umum Setjen Kemendes PDTT.“Sini kalian. Boby, Tina. Duduk di sini,” sambut Nugroho Notosutanto. Ia meminta Boby dan Tina ke depan. Boby duduk persis di depan, di ruangan kosong antara bang Akbar dan Nugroho. Tina duduk di belakangnya, tepatnya diantara saya dan Datuk Febby.

“Abang bisa baca GPS-kan?” tanya Nugroho, nanti dipandu Boby.“Tidak,” jawabnya singkat.

Plak..! Semua saling berpandangan. Seakan ditampar diri ini. Jurumudi speedboat tak bisa baca GPS. Kecemasan semakin menyelimuti diri bersama gelap malam di tengah lautan, disiram hujan, dipagut badai dipermainkan ombak.“Ya, sudah. Boby, Tina, pandu beliau,” pinta Nugroho. Ia duduk semakin gelisah.

“Ya, cari pulau terdekat saja!” pinta Datuk Febby. Semua sepakat.Boby dan Tina memperlihatkan GPS kepada bang Akbar, lalu menunjukkan posisi speedboat. Berada di antara dua pulau. Sebelah kiri, atau dibagian barat, pulau Baru. Disebelah timur, pulau Bunyu. Tarakan yang hendak dituju, masih sangat jauh di depan, tepatnya di sebelah selatan.

Panduan di GPS, pulau terdekat adalah pulau Baru, “oke, kita ke pulau baru saja,” kata sepakat pun diambil. Bang Akbar juga sepakat.Speedboat kemudian diarahkan ke pulau Baru. Berlahan dan pasti, namun laju speedboat sangat pelan.

Editor : Adrian Tuswandi, SH
Banner InfografisBanner - Gor
Tag:
Bagikan

Berita Terkait
Terkini