Syawal, Bulan Peningkatan

Foto Syawal, Bulan Peningkatan
Foto Syawal, Bulan Peningkatan

Oleh : Khairul IkhwanSEBULAN penuh umat muslim seluruh dunia menjalankan ibadah puasa tahun 2021. Dalam ajaran syariat Al-Quran dijelaskan bahwa, jika ibadah dilakukan secara benar, maka seorang muslim akan kembali kepada fitrahnya saat tiba 1 Syawal.

Kefitrahan akan terlihat setelah seorang muslim menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan dan kembali sebagai pribadi yang fitrah setelah Idul Fitri. Ciri fitrah seorang muslim itu akan terlihat di bulan Syawal dan sepanjang tahun setelahnya, hingga Ramadan kembali menghampiri.Bentuk fitrah yang muncul secara lahir akan tercermin pada sikap seorang muslim. Setelah Ramadan, setiap muslim akan memiliki sikap istiqomah, yakni memegang teguh agama tauhid yaitu Islam dalam kehidupannya. Umat tetap berkeyakinan bahwa Allah SWT itu Maha Kuasa dan hanya kepada-Nya memohon dengan khusyuk. Di bulan Syawal, keimanan dan ketakwaan seorang muslim semakin terpatri kuat di dalam sanubarinya.

Sikap selanjutnya pasca Ramadan adalah dalam kehidupan sehari-hari. Umat akan selalu berbuat dan berkata yang benar. Walaupun ucapan itu berat, meskipun perkataan itu pahit disampaikan di hadapkan pada pihak penguasa negeri, kebenaran harus tetap disampaikan. Sikap yang teguh pada kebenaran merupakan ciri orang yang berpuasa sepanjang bulan Ramadan.Setelah itu, umat muslim tetap berlaku sebagai abid (penghamba), yaitu hamba Allah SWT yang selalu taat dan patuh kepada perintah dan larangan Allah SWT. Sebagai contoh, semua umat harus taat menjalankan salat lima waktu sehari semalam, selalu menunaikan zakat, serta bekerja keras untuk meninggalkan maksiat atau tidak melakukan perbuatan zalim dan tidak melakukan kejahatan lainnya. Setelah Ramadan, seorang muslim yang mendapatkan buah puasa akan konsisten menjalankan ibadah kepada Allah SWT.

Iadah puasa Ramadan berfungsi sebagai tazkiyatun nafsi, yaitu menyucikan jiwa. Zakat fitrah di penghujung Ramadan yang telah ditinaikan berfungsi sebagai tazkiyatul jasadi, menyucikan badan. Maka, setelah selesai ibadah puasa dan menunaikan zakat, seorang muslim akan kembali kepada fitrahnya. Akan suci jiwanya dan suci badannya. Seorang muslim yang kembali kepada fitrahnya selain sebagai abid (hamba Allah) yang bertakwa, juga akan memiliki kepekaan sosial yang tinggi peduli kepada lingkungannya.Itulah beberapa indikator dari gambaran seorang yang kembali kepada fitrahnya setelah selesai menunaikan ibadah shaum Ramadan sebulan lamanya. Buah ibadah Ramada itu akan tampak pada dirinya setelah selesai puasa Ramadan.

Ramadan sudah berlalu. Hari-hari sebagai manusia fitri di bulan Syawal kembali dilewati. Bersama-sama dengan umat Islam, semua warga negara Indonesia dari segala arah dan penjuru dunia dari Sabang sampai Merauke tak akan henti-hentinya mengumandangkan alunan suara takbir, tasbih, tahmid dan tahlil. Sebagian masyarakat sebelum pandemi covid-19 pada malam hari raya Idul Fitri selalu dilakukan takbir keliling yang sudah menjadi budaya di Sumatera Barat. Hal ini sesungguhnya merupakan manifestasi kebahagiaan setelah berhasil menjalankan puasa di bulan Ramadan. Sebagaimana firman Allah SWT yang artinya: “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah SWT atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” Rasulullah SAW bersabda yang artinya “Hiasilah hari rayamu dengan takbir.”Takbir itu ditanamkan ke dalam lubuk hati sebagai pengakuan atas kebesaran dan keagungan Allah SWT. Kalimat tasbih kita tujukan untuk mensucikan Allah dan segenap yang berhubungan dengan Allah SWT. Tidak lupa kalimat tahmid sebagai puji syukur juga ditujukan untuk Rahman dan Rahim-Nya yang tidak pernah pilih kasih kepada seluruh hambanya.

Hari raya Idul Fitri adalah puncak dari pelaksanaan ibadah puasa. Idul Fitri memiliki makna yang berkaitan erat dengan tujuan yang akan dicapai dari kewajiban berpuasa itu sendiri yaitu manusia yang bertakwa.Perlu dijelaskan kembali, istilah kata Id berasal dari akar kata aada-yauudu yang artinya kembali sedangkan fitri bisa berarti buka puasa untuk makan dan bisa berarti suci. Adapun fitri yang berarti buka puasa yang berasal dari akar kata ifthar (sighat mashdar dari aftharo-yufthiru). Perlu diketahui juga, bahwa berdasar hadis Rasulullah SAW yang artinya, ”Dari Anas bin Malik, Tak sekali pun Nabi Muhammad SAW. Pergi (untuk shalat) pada hari raya Idul Fitri tanpa makan beberapa kurma sebelumnya. "Dalam Riwayat lain: "Nabi SAW. Makan kurma dalam jumlah ganjil." (HR Bukhari).

Dengan demikian, makna Idul Fitri berdasarkan uraian di atas adalah hari raya di mana umat Islam untuk kembali berbuka atau makan. Oleh karena itulah, salah satu sunah sebelum melaksanakan salat Idul Fitri adalah makan atau minum walaupun sedikit. Hal ini untuk menunjukkan bahwa hari raya Idul Fitri 1 Syawal itu waktunya berbuka dan haram untuk berpuasa.Sedangkan kata fitri yang berarti suci, bersih dari segala dosa, kesalahan, kejelekan, keburukan berdasarkan dari akar kata fathoro-yafthiru dan hadis Rasulullah SAW yang artinya: “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan didasari iman dan semata-mata karena mengharap ridho Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (Muttafaq ‘alayh).

Pemaknaan hari raya Idul Fitri hendaknya bersifat positif seperti juga menjalin silaturrahmi sebagai sarana membebaskan diri dari dosa yang bertautan antar sesama makhluk. Silaturahmi tidak hanya berbentuk pertemuan formal seperti Halal bi halal, namun juga bisa dengan cara menyambangi dari rumah ke rumah, saling duduk bercengkerama, memberi kesenangan, saling mengenalkan dan mengikat kekerabatan. Apalagi sekarang, permohonan maaf dan silaturahmi sudah tidak mengenal batas dan waktu sebab bisa menggunakan jejaring media sosial seperti lewat wa, sms, up-date status, inbox di facebook, twiter, yahoo messenger, skype dan email. Apalagi di masa pandemi covid-19 sekarang media virtual bisa menggantikan pertemuan langsung rumah ke rumah .Begitulah pentingnya silaturahmi sebagaimana Sabda Rasulullah SAW yang artinya: “Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu berjabat tangan melainkan keduanya akan diampuni (dosanya) sebelum mereka berpisah. (HR. Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Rasa suka cita dan senang karena umat merayakan hari kemenangan. Namun, di samping itu juga bercampur sedih dengan linangan air mata bahagia karena meninggalkan bulan Ramadan yang penuh berkah, maghfiroh dan rahmat Allah SWT.Banyak pelajaran dan hikmah, faidah dan fadhilah yang kita dapatkan. Kini bulan Ramadan telah berlalu, Syawal pun datang. Satu hal yang tidak boleh meninggalkan kita dan harus tetap bersama umat yaitu spirit dan akhlakiyah puasa Ramadan.

Syawal harus menjadi imtidad lanjutan Ramadan dengan ibadah serta kesalehan sosial. Sebab kata Syawal itu sendiri artinya peningkatan. Inilah yang harus mengisi sebelas bulan ke depan dalam perjalanan hidup berikutnya.(dikutip dari: Komentar, Harian Singgalang Selasa 18/5)

Editor : Adrian Tuswandi, SH
Banner Ultah Golkar 20
Tag:
Bagikan

Berita Terkait
Terkini