Selain budak Madagaskar, tambang Salido juga mempekerjakan penduduk lokal dari Minangkabau dan Jawa.
Para pekerja ini menghadapi kondisi kerja yang sangat berat, menggali lubang hingga kedalaman 300 meter.
Sementara itu, di Amsterdam, para investor Belanda menghitung keuntungan besar yang mereka peroleh dari hasil kerja keras para buruh tambang tersebut.
Seperti yang sering terjadi di tambang emas di seluruh dunia, Salido juga menjadi saksi bisu bagaimana emas sering kali dicapai dengan darah dan penderitaan.
Situasi ini menjelaskan mengapa emas tidak hanya membawa kekayaan, tetapi juga kegelisahan bagi siapa pun yang mencarinya.
Pada masa operasi tambang, Salido berkembang menjadi desa yang lengkap dengan berbagai fasilitas.
Namun, dibandingkan Salido, kawasan Manggani di Limapuluh Kota lebih terkenal dan mentereng.Pada awal abad ke-20, aktivitas tambang emas semakin menggeliat, yang turut mendorong perkembangan ekonomi daerah.
Pasar menjadi semakin ramai, dan Kota Padang pun sibuk dengan aktivitas ekspor emas dan kopi ke Eropa dan Amerika.
Berdasarkan dokumen Demijnbouw Naatschappij Salida Sumatra’s Westkust (1910-1933), sekitar 90 persen produksi emas di Hindia Belanda berasal dari Salido dan tambang lain di Sumatera.
