Alternatif strategis: Danantara Aero Support Synergy (DASS)
Alih-alih menyalurkan modal langsung ke Garuda, Danantara dapat membentuk sebuah sub-holding terpadu yang dalam tulisan ini secara ilustratif disebut Danantara Aero Support Synergy (DASS). Skema ini melibatkan merger dua entitas eksisting: GMF AeroAsia dan Pertamina Aviation, serta penambahan unit leasing pesawat berdenominasi rupiah ke dalam satu ekosistem. Langkah ini tidak menciptakan BUMN baru, melainkan merampingkan struktur, memanfaatkan Pasal 3F huruf h tentang restrukturisasi aset, dan mendukung efisiensi melalui Holding Investasi dan Operasional.
Setelah terbentuk, DASS dapat menawarkan “paket efisiensi” terpadu. Leasing rupiah meniadakan risiko kurs; MRO terpadu menurunkan biaya perawatan hingga 20 persen melalui skema power-by-the-hour dan skala ekonomi; distribusi avtur terintegrasi memungkinkan kontrak jangka panjang yang memangkas volatilitas harga. Alhasil, setiap rupiah yang dikelola Danantara tidak sekadar menambal kerugian Garuda, melainkan membangun struktur biaya penerbangan yang efisien dari hulu ke hilir, serta memperluas dampak hingga ke bandara-bandara 3TP (Tertinggal, Terpencil, Terluar, dan Perbatasan).Pelajaran dari luar negeri memperkuat logika paket efisiensi ini. Penggabungan leasing MRO ala Sanad Group di Uni Emirat Arab memangkas downtime dan biaya modal maskapai; model grosir multi-maskapai SIA Engineering Company di Singapura menurunkan tarif perawatan; sementara platform avtur terintegrasi World Fuel Services menunjukkan betapa besarnya penghematan ketika pasokan bahan bakar dan dukungan logistik dikelola di satu atap. Dengan menambahkan komponen leasing rupiah yang stabil, DASS berpotensi menjadi first mover sub-holding aviasi terintegrasi milik sovereign wealth fund di Asia Tenggara.
Konsekuensi praktis dari model terintegrasi tersebut ialah terbukanya akses biaya rendah bagi seluruh operator. Maskapai regional seperti Lion, AirAsia, dan Super Air Jet serta operator asing yang membuka rute ke Nusantara bisa menikmati harga bahan bakar terintegrasi, slot MRO berbiaya murah, dan cicilan leasing yang bebas risiko kurs. Biaya pokok yang menurun membuat neraca maskapai lebih sehat, memicu persaingan yang menekan harga tiket, dan menjadikan bandara-bandara Indonesia semakin menarik sebagai hub regional berkat efisiensi yang ditawarkan DASS.
