Aksi Perang Covid-19, PKB Eksplorasi Masjid Tertua di Minangkabau

oleh -137 views
Masjid Tuo perpaduan minang dan Islam diexplorasi Tim Perang Covid-19 PKB Sumbar, Selasa 14/4 (foto: dok)

Solok,—-Satgas Covid-19 PKB terus begerak masuk kampung ke luar kanpung di Sumbar untuk antisipasi masifnya Coronavirus.

Seperti Selasa 14/4 kemarin tim melakukan penyemprotan disinfektan ke riang publik di Nagari Talang.

”Selain perang Civid-19 kami juga melakukan ziarah ke Makam Syech  Mansur dan Angku Labai di Surau Tuo yang menjadi surau tertua di Minangkabau Sumbar,”ujar Ketua DPW PKB Sumbar H Febby Dt Bangso kepada media ini, Rabu 15/4.

Hebatnya lagi Tim Kreatif PKB mengeksplorasi Masjid Tuo yang  sudah dijadikan sebagai cagar budaya tersebut, sesuai informasi yang tertulis di prasasti informasi menyebutkan Masjid Tuo Kayu Jao dibangun oleh Angku Masaur (Angku Masyhur) dan Angku Labai,”ujar Febby.

Aksi di tengah wabah Corona ini skeain untuk misi religius PKB kepada ornamen syiar Islam di Sumbar.

“Angku Syech Masyhur cerita hidup di jemaah di sini dikenal sebagai imam masjid tersebut yang memiliki suara merdu, pengucapan yang berirama, bacaan yang benar dan fasih, sehingga Angku Masyhur menjadi imam idola jemaahnya,”ujarnya.

Angku Masyhur meninggal saat menjadi imam shalat Jumat, dan dimakamkan di mihrab masjid.
Selanjutnya, Angku Labai dikenal sebagai bilal di masjid tua itu. Tak kalah dengan Angku Masyhur, Angku Labai juga punya suara yang sangat merdu dan khas, sehingga ketika azan orang yang mendengar dengan ringan hati datang ke masjid.

“Ada banyak cerita syiar Islam di masjid ini, seperti Angku Labai punya kemampuannya berpindah–pindah dari satu tempat ke tempat lain dengan singkat, dan dianggap memiliki ilmu yang tinggi.
Angku Labai dimakamkan di Jirek (langgar) yaitu di lokasi di mana beliau biasa sholat di luar masjid,” ujarnya.

Masjid Tuo Kayu Jao secara keseluruhan dipengaruhi corak Minangkabau. Memiliki tatanan atap tiga tingkat yang terbuat dari ijuk dengan ketebalan 15 cm. Permukaan dibuat tidak datar alias cekung, cocok untuk daerah tropis karena lebih cepat mengalirkan air hujan ke bawah.

“Antara satu tingkatan di setiap atap, terdapat celah untuk pencahayaan, sehingga masjid tetap mendapatkan cahaya yang cukup dari arah atas,”ujar Febby.

Bahkan kata Febby di artikel Dio Farhan Harun dan kawan-kawan
“Karakter Visual Bangunan Masjid Tuo Kayu Jao di Sumatera Barat’ dalam Arsitektur E-Jurnal, Volume 8 No 2, November 2015 menulis, gaya bangunan masjid merupakan gabungan antara corak Islam dan Minangkabau.

“Beberapa ornamen yang terlihat, yakni ornamen dekoratif dengan motif hasil stilisasi dari tumbuhan pada dinding atap masjid, yang terletak antara atap tingkat pertama dan kedua,”ujarnya.

Ornamen dekoratif dengan motif flora, menurut para penulis, juga terdapat pada dinding mihrab Masjid Tuo Kayu Jao.

Sementara, ornamen dekoratif selompat, ada pada dinding kolong, yang melambangkan kekuatan hukum berada di tangan pangulu.

Di dalam masjid ada mimbar yang dibuat indah dan megah juga dengan motif ukiran tumbuh-tumbuhan. Mimbar diperkirakan berumur sama dengan masjid.

Atap masjid tersebut disangga 27 tiang yang merupakan simbolisasi dari enam suku di sekitar masjid. Masing–masing terdiri dari empat unsur pemerintahan ditambah tiga unsur dari agama, yakni khatib, imam, dan bilal.

Masing-masing tiang berukuran lingkar 25 cm hingga 30 cm. Tiang masjid hanya diletakkan di atas batu sandi sebagai pondasi. Tiang-tiang terbuat dari kayu kelas satu, dengan jenis yang belum diketahui.

Simbolisasi juga terdapat di jendela dengan jumlahnya yang ganjil sebanyak 13 buah, yang mengandung makna 13 rukun shalat.

Ragam hias dan motif seni ukir Minangkabau yang terdapat berbagai arstitektur masjid menunjukkan, orentasi kepada alam. Sesuai pepatah yang mengatakan ,”alam takambang jadi guru, cancang taserak jadi ukia“. Filosofi adat yang masih dipakai masyarakat Minang hingga kini.

Beberapa sumber menyebut Masjid Tuo Kayu Jao sudah ada sejak 1599. Sumber lain, situs resmi Pemkab Solok, bahkan menyebut lebih tua dari itu, yakni tahun 1567. Yang pasti, Buya Masoed Abidin dan Nusyirwan Effendi dalam Buku ‘Surau Kito’ menulis, masjid ini sudah berusia lebih dari 400 tahun.

Dengan demikian, Masjid Tuo Kayu Jao tercatat menjadi masjid tertua di Ranah Minang yang masih berdiri hingga kini. Bahkan, bisa disebut jadi salah satu yang tertua di Indonesia. Masjid yang membawa suasana pengembangan Islam pada zaman sebelum Padri. Suasana Islam dari Minangkabau masa abad ke-16 silam dan ini juga bukti bahwa minangkabau itu ahlussunnah waljamaah.(tim-c-19-pkb)