Keanekaragaman Jenis dan Maraknya Peternakan Galo-galo di Sumbar

Kepala Desa dan warga Koto Baru Solok yang sangat antusias belajar tentang budidaya galo-galo bersama beberapa dosen pengabdi dari FMIPA UNAND dan STIKES Indonesia (kiri), Komunitas pembudidaya galo-galo Mutiara Alam yang baru saja terbentuk telah ikut be
Kepala Desa dan warga Koto Baru Solok yang sangat antusias belajar tentang budidaya galo-galo bersama beberapa dosen pengabdi dari FMIPA UNAND dan STIKES Indonesia (kiri), Komunitas pembudidaya galo-galo Mutiara Alam yang baru saja terbentuk telah ikut be

Bebarapa peneliti maupun penggiat galo-galo dari kalangan akademisi juga terlibat dalam berbagai diskusi dan kegiatan perlebahan di Sumatra Barat sehingga menghasikan forum tukar informasi yang produktif. Pemerintah Sumatra Barat melalui Dinas Kehutanan, Perguruan Tinggi hingga Gubernur sendiri ikut aktif mendorong perkembangan peternakan galo-galo di Sumatra Barat.Gerakan Meminum Madu Asli (GEMMA) telah diluncurkan Gubernur Sumatra barat beberapa bulan berselang seiring dengan peluncuran bantuan koloni bagi beberapa kelompok tani hutan oleh Dinas Kehutanan Sumatra Barat. Semua perhatian dan dukungan pemerintah ini diharapkan memacu produksi maupun pemasaran produk galo-galo serta pemanfaatan berbagai produk dari peternakan galo-galo untuk meningkatkan kesehatan dan perekonomian masyarakat.

Kolaborasi dan PendampinganBersamaan dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat akan madu, peluang pemasaran juga meningkat. Namun pada saat yang sama muncul pula beberapa kasus yang membuat publik bimbang akan keaslian madu, terutama setelah ditemukan adanya pihak-pihak yang tak bertanggung jawab dengan memproduksi madu palsu atau adanya produk madu yang dicampur dengan bahan lain semata untuk mengejar keutungan lebih tanpa memikirkan resiko buruknya bagi konsumen.

Berbagai tips dan trik untuk mengenali keaslian madupun bermunculan, terutama di media sosial, ada yang berdasarkan informasi logis namun tak sedikit pula info yang kurang berdasar. Untuk mengurangi keraguan konsumen akan keaslian madu dari peternakan lebah bersengat (jenis Apis cerana maupun Apis melifera), maupun dari pengumpul lebah hutan bersengat yang hanya mau bersarang di pohon tertentu pada kawasan hutan (jenis Apis dorsata), peternak atau pengumpul madu akan menyertakan beberapa informasi utama bagi calon pembeli, seperti memberikan informasi tentang lokasi peternakan atau lokasi koloni lebah serta membuat rekaman video saat panen atau pengoleksian madu dilakukan. Begitu pula halnya dengan peternakan galo-galo, informasi mengenai lokasi pembudidayaan, jenis lebah dan waktu pemanenan yang direkam dengan video dan adanya foto seolah sudah merupakan aturan tak tertulis yang harus disediakan dan siap diinfokan pada konsumen.Maraknya budidaya galo-galo dengan lokasi sarang atau koloni yang bisa dikondisikan dapat berada di sekitar pemukiman memberikan peluang lebih bagi konsumen yang ingin melihat langsung kondisi koloni/sarang galo-galo, bagaimana vegetasi tumbuhan yang potensial sebagai pakan lebah di sekitar sarang bahkan ada peluang bagi calon pembeli untuk merasakan pengalaman memanen langsung madu dari sarang galo-galo dengan prosedur standar yang akan diarahkan oleh peternak lebah. Kondisi yang demikian diharapkan dapat menepis peluang adanya pencampuran kandungan madu dengan senyawa lain, bahkan menciptakan peluang baru untuk melayani pengunjung dengan pengalaman pemanen madu di koloninya, lalu dapat membawa pulang madunya.

Pengenalan jenis, pengalaman memanen dan upaya pengenalan tanaman pakan disekitarnya sebagai sumber pakan, secara tidak langsung dapat menjadi sarana edukasi bagi konsumen madu dan pada gilirannya, dengan sedikit pengembangan layanan berpotensi pula sebagai salah satu daya tarik ekoeduwisata di lokasi tertentu. Beberapa peternak di Kota Sawaluunto misalnya melakukan kerjasama dengan pemerintah daerah melalui dinas terkait, telah menggunakan galo-galo sebagai salahsatu daya tarik bagi pengunjung Taman Buah Kandi.Kerjasama peternak dan pemerintah di Sawah Lunto ini terus berlanjut hingga terlaksana pula Festival Madu Sumatra Barat pada akhir Oktober lalu. Lomba madu kemasan, lomba kreasi toping dan seminar ilmiah juga digelar pada Festival Madu yang dihadiri peternak dari berbagai penjuru Sumatra Barat. Kegiatan ini sangat positif karena dapat menjadi ajang silaturahim bagi peternak, ajang promosi bagi pemasaran produk serta merupakan ajang sosialisasi-edukasi bagi masyarakat yang terus menunjukkan minat untuk beternak galo-galo.

Pada kesempatan ini salah satu komunitas peternak pemula dari Koto Baru Solok ikut berpartisipasi dalam ajang lomba, walaupun baru mendapat pendampingan cara beternak galo-galo sebulan sebelumnya dari beberapa dosen pengabdi dari Jurusan Biologi FMIPA UNAND dan STIKES Indonesia serta dukungan dari Koperasi Mandiri dan Merdeka (KMDM) Padang yang juga memasarkan produk UMKM dengan produk madu melalui toko onlinenya pasarrabutani.com (anilisa).

Editor : Adrian Tuswandi, SH
Banner Ultah Golkar 20
Tag:
Bagikan

Berita Terkait
Terkini