Saya berpendapat, jika sebagai ilmuwan belum memegang data yang cukup, sebaiknya berupaya mencari dulu data dan dokumen-dokumen yang terkait dengan rencana pembangunan IKN. Jangan tanpa data karena malas memburu data, tetap beropini dengan banyak berlindung dari kata-kata,"Saya duga..." atau "Saya khawatir...", dan sebagai, untuk mengkritik rencana pembangunan IKN. Semestinya, sebagai ilmuwan, dilakukan dulu upaya mendapatkan data, lalu mempelajarinya, setelah itu baru membuat konklusi dan penilaian. Sebagai selebriti intelektual harusnya para ilmuwan yang sering menjadi narasumber tetap menjalankan prosedur cara membuat konklusi dan menyampaikan opini, karena setiap apa yang disampaikan seorang ilmuwan cepat diikuti oleh orang awam.
Karena, kalau opini yang disampaikan tidak didasarkan data yang cukup dan kesimpulan yang mendasarinya keliru, maka masyarakat awam akan terbawa ke pandangan yang salah. Masyarakat awam banyak yang mudah terpengaruh oleh popularitas pembuat opini. Apalagi jika pembuat opini pandai beretorika dan memasang mimik muka yang meyakinkan.Sulitkah mendapatkan data dan dokumen tentang IKN. Saya yakin tidak sesulit mendapatkan data dan dokumen di masa Orde Baru. Buktinya, seorang Faisal Basri sering mendapatkan data-data eksklusif yang membuat beliau bisa bicara keras tanpa ada yang mempermasalahkan. Tidak berlebihan jika saya katakan bahwa Faisal Basri adalah satu dari amat segelintir pengamat dan ilmuwan yang tidak malas.
Hasilnya, dengan berdasarkan data yang kuat, apa yang kadang-kadang disampaikannya dengan keras, tidak ada yang berhak marah atau tersinggung. Dari segi kegunaan, cara-cara kritik seperti yang dilakukan Faisal Basri harus kita dukung, karena berguna untuk memperbaiki kebijakan.Sebaiknya, para ilmuwan yang sering bicara di media dan webinar tetaplah menjadi ilmuwan yang sesungguhnya.
Cirinya adalah membuat konklusi dengan tepat dengan didasarkan data yang cukup. Dan untuk tetap menjadi ilmuwan, anda harus bekerja seperti Jeffrey A. Winters, Ian Chalmers, M. Ramesh dan Faisal Basri, yang saya sebutkan dalam tulisan ini.(analisa) Editor : Adrian Tuswandi, SH