Limapuluh Kota,---Menantang maut dan siap celaka itulah yang diregang banyak warga. Pasalnya sebuah jembatan penghubung yang setuap saat menunggu runtuh atau jebol.Itukah potret paling tepat gambarkan kondisi jembatan di sebuah kampung yang hanya berjarak sekitar empat kilometer dari pusat Kabupaten Limapuluh Kota.
Jembatan yang berada di Padang Ambacang, Jorong Ketinggian ini, setiap hari menantang maut bagi sekitar 250 Kepala Keluarga (KK) yang melaluinya."Kami sangat prihatin. Jarak kantor bupati dengan jembatan ini tak sampai sepuluh menit. Namun kepala daerah dan wakil rakyat hanya menutup mata," ujar Muslim, 30 tahun, warga setempat mencurahkan kerisauannya menatap jembatan tersebut, Sabtu (20/1).
Yuspenhel, 50 seorang tokoh masyarakat Jorong Ketinggian, Kenagarian Sarilamak menyebutkan berkali-kali pembangunan jembatan secara permanen sudah dijanjikan oleh mantan calon kepala daerah dan mantan calon anggota legislatif."Diangkek ndak taangkek (diangkat tidak terangkat), jembatan tetap dibangun, anggaran sudah ada, sudah dijanjikan sejak 10 tahun lalu, namun realisasinya sampai hari ini masih berbentuk kayu yang mudah lapuk," ujarnya menirukan kalimat kampanye para politikus.
[caption id="attachment_5646" align="aligncenter" width="1040"]
Kondisi jembatan parah, warga melintas harus waspada karena maut menabti mereka. (foto: dok)[/caption]Ketua Kelompok Padang Ambacang, Ismail menjelaskan bahwa jembatan yang menghubungkan akses ke Padangambacang hingga Muaro itu pernah dibangun tahun 2011 dengan anggaran dana yang bersumber dari Program Pembangunan Instruktur Perdesaan (PPIP) sebesar Rp 250 juta."Proyek pembangunan jembatan itu terlaksana karena dibantu masyarakat secara gotongroyong setiap hari. Dana 250 juta hanya untuk pondasi tiang dan besinya saja. Tenaga tukang dan bahan papan kayu jembatan, swadaya masyarakat saja," ungkapnya.Ismail menambahkan, untuk biaya perawatan jembatan terhitung jauh lebih mahal dibanding pembangunan.
"Tiap kali ganti papan, biaya bisa mencapai 6 juta. Dana diperoleh dari sumbangan rumah ke rumah. Kayu dicari ke hutan. Lalu dikerjakan dengan gotongroyong. Itupun papannya hanya bertahan beberapa bulan," imbuhnya.Parahnya, lanjut Ismail, bantalan pondasi untuk menaruh papan jembatan sudah lapuk. Besi tiang penyangga juga sudah berkarat, kalau tidak dibeton sedini mungkin, maka dalam jangka panjang jembatan itu akan ambruk lagi.
[caption id="attachment_5649" align="aligncenter" width="1280"]
Kondisi jembatan penghubung 250 KK di Pasar Ambacang Sarilamak Limapuluh Kota. (foto: dok)[/caption]"Dibeton saja lagi obatnya, bukan kayu. Dana sekitar 6 juta sekali perawatan dari iuran warga tidak sampai setahun sudah lapuk kembali," paparnya.(rian)
