Kearifan Warga 'Badorai' Sambut Perantau

Demi menjaga keasrian Air Terjun Badorai tidak untuk umum, kearifan lojak (ilhamsyah_mirman)
Demi menjaga keasrian Air Terjun Badorai tidak untuk umum, kearifan lojak (ilhamsyah_mirman)

Kearifan Lokal vs PariwisataTidak perlu berlama-lama, didapat jawaban. Adalah petani aneka sayur mayur dan daun bawang bernama Pak Jon yang memberi jawaban.

"Bukannya tidak ingin kami mengembangkan lokasi ini, pemuda berinisiatif untuk mengelola namun tidak diperbolehkan oleh Nagari," ungkap petani yang baru saja memetik cabai dan kembang kol ini.Perangkat Nagari tidak setuju, karena kalau dibuka resmi bakal banyak pengunjung. Meski untuk kelompok kecil atau keluarga yang datang kami membuka diri. Namun rombongan besar atau pengunjung dalam jumlah banyak, mohon maaf, diminta untuk balik kanan. tidak diperbolehkan.

Sekiranya tidak dibatasi, aliran yang digunakan sebagai bahan baku memasak, mandi dan keperluan sehari-hari, berpotensi terganggu. Sampah berserakan. Air 'aqua' yang amat jernih dan 'manis' ini adalah andalan masyarakat memenuhi kebutuhan pokok air minum sejak berbilang tahun.Tentu bakal menimbulkan konflik kepentingan antara kedua sektor tersebut, pengembangan destinasi wisata atau menjaga 'keperawanan' untuk memenuhi hajat hidup masyarakat.

Meski keduanya tidak perlu dipertentangkan karena sama-sama menyangkut orang banyak, namun tampaknya kearifan lokal strategi menyambung kehidupan sehari-hari jauh lebih bernilai ketimbang 'modernisasi'.Pola pikir yang subur di tengah masyarakat memang menjadi satu kekhasan tersendiri. Kalau dibandingkan dengan daerah lain. Atas nama modernisasi maka semua nilai-nilai sosial dan tradisi dikesampingkan, bila perlu dihilangkan. Yang penting bisa mendatangkan uang dan dianggap modern. Meski kadang makna kemajuan itu sendiri absurd.

Apalah arti modern kalau merusak lingkungan dan mengganggu tatanan sosial yang sudah berjalan dengan asri. Terlebih umumnya masyarakat tidak bisa menikmati, hanya segelintir orang mendapatkan manfaat.Sambut Perantau 

Demikianlah, di tengah hingar bingar keriuhan sanak yang berdatangan dari rantau. Di bulan penuh berkah, di mana 1,8 juta perantau bergeduru mengetuk rumah gadang.'Sudah delapan puluh ribu warga Bukittinggi yang pulang', ucap Bu Pendi dari Balaibanyak.

Entah darimana dia mendapatkan angka eksak itu. Namun yang jelas 'parkiran dan kondisi pasar Aur Kuning makin ramai', sambungnya meyakinkan tentang asal angka yang jumlahnya dua pertiga penduduk kota Bukittinggi.Apapun dan berapapun angka itu, dipastikan sebagian besar bakal mengisi waktu menikmati pesona kampung halaman, setelah berjibaku menjalani prosesi pulang basamo. Berkunjung ke tempat-tempat wisata bersama keluarga.

Maka perlu kearifan kita semua, agar tidak membuat kecewa keluarga kita yang datang dari jauh. Ingin menikmati Rahmat Yang Maha Kuasa di tempat bunda melahirkan. Berpandai-pandai agar kita saling menjaga. Boleh datang, tapi jangan riuh dan merusak lingkungan.Penutup

Sikap masyarakat di sekitar Air Terjun Badorai ini patut untuk dihargai sekaligus jadi salah satu contoh, bagaimana kiat harus menghindari kesilauan duniawi.Menjaga harmoni dan adab yang ada ditengah masyarakat, agar rezeki yang Allah berikan melalui keindahan alam dan kejernihan air mengalir, mampu menjadi penopang hidup hingga generasi berikutnya.

Sampai kapankah ini bisa bertahan....waktulah yang berbicara.Bktg, 260422-Ilh/RRc/(analisaa)

Editor : Adrian Tuswandi, SH
Banner InfografisBanner PLN Black Out
Tag:
Bagikan

Berita Terkait
Terkini