Oleh Aprila AurahmiMahasiswi Sastra Inggris UNAND
JAUH sebelum JK Rowling dikenal seluruh penjuru dunia dengan karyanya Harry Potter. Enid Mary Blyton lebih dahulu dikenal sebagai penulis asal Inggris lewat karya-karyanya yang bertemakan petualangan anak-anak dan remaja. Ia merupakan penulis cerita anak paling terkenal sekaligus paling produktif sepanjang masa.Enid Mary Blyton atau yang dikenal dengan nama penanya Mary Pollock lahir di Dulwich, London, Inggris pada tanggal 11 Agustus 1897. Ia lahir dari pasangan pebisnis Thomas Clare Blyton dan Mary Theresa Harisson. Orang tuanya menginginkan dia untuk menjadi seorang pianis, tapi Enid ingin jadi seorang guru. Orang tuanya menyetujuinya untuk berlatih menjadi guru di Ipswich High School tahun ajaran 1916 - 1918. Enid memulai karirnya sebagai seorang guru di Kent pada tahun 1919.
Enid sudah mulai menunjukkan kegemarannya terhadap dunia kepenulisan pada usia belia. Dia gemar menulis puisi dan membaca buku. Karya pertamanya yang terbit di majalah anak-anak adalah puisi pada usia 14 tahun. Dan pada tahun 1917 puisinya yang lain terbit di Nash's Magazine. Buku pertamanya berjudul Child Whispers terbit pada tahun 1922. Child Whispers adalah kumpulan 28 puisi dengan ilustrasi. Yang mana pengilustrasinya adalah teman masa kecil Enid dan kolaborator Phyllis Chase.Dalam film dokumenter yang dibuat BBC berjudul Enid, ayah dan ibu Enid bertengkar hebat yang membuat ayahnya pergi dari rumah. Hal tersebut membuat Enid juga memutuskan untuk pergi dari rumah. Karena dia lebih dekat sama sang ayah dibanding ibu. Pada masa ini lah Enid kembali menulis dan bertemu suami pertamanya. Seorang veteran perang bernama Mayor Hugh Pollock dan memutuskan menikah pada 28 Agustus 1924. Pernikahan mereka dikaruniai dua orang anak yaitu Gillian Mary Baverstock, dan Imogen Mary Smallwood.
Setelah menikah ia memutuskan meninggalkan karirnya sebagai guru dan fokus menjadi penulis. Dia menulis sekaligus editor untuk majalah anak berjudul Sunny Stories. Majalahnya terbit setiap dua minggu.
Terlalu hidup dalam dunia imajinasi buatannya membuat Enid malah mengesampingkan rumah tangganya. Rumah tangganya retak yang berujung kepada perceraian. Enid menikah kembali dengan seorang dokter bedah bernama Kenneth Waters.Tahun 1942, Enid mulai membuat serial The Famous Five yang diganderungi di seluruh dunia. Kisah tentang Julian, Dick, George, Anne, dan seekor anjing bernama Timmy yang bertemakan kisah petualangan anak-anak yang berjumlah 21 serial.
“Buku ini merupakan buku pertama yang saya baca dari serial ini. Pertama kali membacanya saya langsung tertarik untuk melanjutkan ke serial berikutnya. Buku ini merupakan bacaan ringan yang bagus buat pengisi waktu luang karena ceritanya yang ringan dan tidak rumit namun dapat menimbulkan rasa penasaran akan kejadian-kejadian selanjutnya yang akan dialami oleh lima sekawan tersebut” Ungkap Muhammad Farhan, seorang mahasiswa Universitas Riau yang merupakan pembaca dari serial Lima Sekawan.Di Indonesia sendiri The Famous Five lebih dikenal dengan judul Lima Sekawan. Buku ini adalah salah satu yang menemani masa kecil anak-anak Indonesia pada tahun 80 – 90-an. Salah satu pengalih bahasa yang rajin menerjemahkan karya-karya Enid adalah Agus Setiadi.Tak kalah saing dari The Famous Five, Secret Seven (Sapta Siaga) yang bertema sama yaitu tema petualangan yang terbit tahun 1949 - 1963. Di buku ini Enid Blyton menuliskan kisah tentang Peter, Janet, Jack, Pamela, Barbara, Colin dan anjing pelacak mereka yang bernama Skippy dalam 15 seri judul.Pada 1945, Enid berhenti mengisi kolom di "Teachers` World". Lalu menerbitkan "Little Noddy Goes to Toyland" yang kemudian menjadi seri terkenal. Lalu pada 1952, ia mengundurkan diri dari "Sunny Stories" dan menerbitkan "Enid Blyton Magazine".
Di antara cerita gemilangnya, enid juga tidak luput dari kritik. Antara 1950 dan 1960, karya-karyanya dianggap menekankan peranan gender secara kaku dan menampilkan nilai-nilai kelas menengah yang santai. Karya-karyanya pun dianggap tidak mendidik dan ditarik dari perpustakaan umum, bahkan dilarang di sekolah-sekolah.Beberapa karyanya yang terkenal di Indonesia antara lain seperti; The Adventure Series (Seri Petualangan), The Barney Mystery Series (Serial Komplotan), The Circus Series, The Famous Five (Lima Sekawan), The Five Find-Outers (Pasukan Mau Tahu), The Magic Faraway Tree series, The Secret Seven (Sapta Siaga), dan The Secret Series (Empat Serangkai).
Mengenai keberhasilannya sendiri sebagai seorang penulis legendaris, Michael Woods, seorang psikolog pernah berujar, "Enid pernah menjadi seorang anak, dia berpikir seperti anak-anak, menulis sebagai anak-anak". Bahkan, dalam penghargaan buku Costa di tahun 2008, nama Enid Blyton ditetapkan sebagai penulis paling dicintai, melampaui Roald Dahl, J.K. Rowling, dan Shakespeare.Pada awalnya buku-buku karya Enid Blyton ditujukan pada anak-anak dan remaja. Namun, karena gaya penulisannya dan alur cerita yang menarik namun ringan membuatnya diterima di semua kalangan usia. Enid Blyton dinobatkan sebagai penulis dengan penjualan terbanyak sepanjang masa oleh The Guinness Book Of Records. Produktivitas Enid Blyton sebagai seorang pengarang sudah tidak perlu diragukan lagi. Dalam rentang waktu hidupnya, sudah lebih dari 700 buku telah Enid tuliskan dan diterjemahkan setidaknya kedalam 90 bahasa.
Akun twitter dengan username @.supercoup menulis “Enid Blyton menulis begitu banyak buku, sehingga begitu sulit untuk mengingatnya” Lalu ditimpali oleh Sonya Dewi "Enid Blyton. Banyak buku karya Beliau yang saya baca sejak kecil. Mulai dari serial Lima Sekawan, Pasukan Mau Tahu, Sapta Siaga, Si Badung, Serial Nobby, Adventure Serial, Malory Towers, St. Claire,Sirkus Galliano, dan banyak lagi lainnya. Rasanya minimal ada 100 buku karangan Beliau yang pernah saya baca".Pada akhir 1950-an kesehatan Enid Blyton mulai memburuk. Dia mengalami serangan sesak napas dan diduga terkena serangan jantung. Pada awal 1960-an tampak jelas bahwa dia menderita demensia. Dua buku terakhirnya (tidak termasuk cetakan ulang dari materi sebelumnya) adalah menceritakan kembali kisah-kisah Alkitab, The Man Who Stopped to Help dan The Boy Who Came Back, keduanya diterbitkan pada Agustus 1965. Kenneth juga sakit, dengan radang sendi yang parah. Obat yang dia minum untuk arthritisnya merusak ginjalnya dan dia meninggal pada tanggal 15 September 1967, meninggalkan Enid seorang diri. Gillian dan Imogen, kedua anak Enid tersebut mengunjungi secara teratur dan melakukan apa yang mereka bisa untuk ibu mereka tetapi dia menolak secara fisik dan mental selama beberapa bulan berikutnya, dirawat oleh stafnya di Green Hedges.
Editor : Adrian Tuswandi, SH

