Pariwisata Sumatera Barat: Kaya Potensi, Lemah Eksekusi

Irdam Imran, Pemerhati sosial dan politik. (Foto: Ist)
Irdam Imran, Pemerhati sosial dan politik. (Foto: Ist)

Oleh: Irdam Imran, Pemerhati sosial dan politik

Kolaborasi yang setengah hati membuat Ranah Minang tertahan di level “potensi”—padahal dunia menunggu bukti, bukan janji.

Sumatera Barat tidak pernah kekurangan cerita untuk dijual ke dunia. Alamnya dramatis, budayanya hidup, kulinernya mendunia. Dari Kepulauan Mentawai hingga Sawahlunto, dari Danau Maninjau hingga Kawasan Mandeh semuanya adalah potensi kelas dunia.

Masalahnya bukan di potensi.

Masalahnya ada pada satu kata yang sering diabaikan: orkestrasi.

Selama ini, pembangunan pariwisata Sumatera Barat berjalan seperti kumpulan nada yang indah tetapi dimainkan tanpa dirigen. Pemerintah daerah bergerak dengan agendanya, pemerintah pusat dengan prioritasnya, sementara pelaku usaha berjalan dengan kepentingannya masing-masing. Semua bergerak, tetapi tidak selalu searah.

Peran Kementerian Pariwisata Republik Indonesia belum sepenuhnya terhubung dengan kekuatan daerah. Di sisi lain, fungsi strategis Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia sebagai jembatan kepentingan daerah di tingkat nasional juga belum dimaksimalkan secara optimal.

Akibatnya, kita menghadapi paradoks yang berulang:

destinasi indah, tetapi akses terbatas;

event ramai, tetapi tidak berkelanjutan;

Editor : Editor
Banner Komintau - MenteriBanner Nevi - HajiBanner Rahmat Hidayat - Hari Buruh
Bagikan

Berita Terkait
Terkini