Oleh : Bintang Maharani PutriMahasiswa Pendidikan Sejarah UNP
BICARA tentang kartinipun ada 2 pokok utama yang sering digaungkan dalam pemikiran masyarakat (Pahlawan Perempuan Nasional dan Tokoh perjuang emansipasi).Kartini terkenal dengan bukunya “Habis Gelap Terbitlah Terang” dan kartini mendirikan sekolah.Faktanya memang berbeda, pertama kartini tidak pernah membuat buku, buku Habis Gelap Terbiltah Terang merupakan kumpulan surat yang disusun oleh Ny Abendon yang menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Kerajaan Hindia Belanda.
Penulisan judul habis gelap terbitlah terangpun di indikasi dengan kartini banyak mengulas kata ”Habis Gelap Menuju Cahaya” yang terinsipirasi dari kalimat terakhir dalam Alqur’an Surat Al-Baqarah 257 “ minazzulumati ilannur”.Kedua, kartini tidak pernah mendirikan sekolah perempuan, tapi ia hanya menggagas pendirian sekolah perempuan pada suaminya dan saat sekolah tersebut mulai didirikan kartini wafat 1904. Faktanya sekolah yayasan kartini didirikan di semarang 8 tahun setelah ia wafat 1912, yayasan sekolah ini didirikan oleh orang belanda yaitu yayasan van deventer tokoh politik etis.
Banyak polemik yang akan dibahas dalam kehidupan kartini, disini saya simpulkan kalau fokus utama perjuangan kartini bukan bicara pendidikan saja, tapi lebih terarah pada kenginannya untuk mendobrak kungkungan adat yang membuat perempuan jepara tidak dengan bebas mendapatkan hak yang sama dengan laki-laki dan perempuan daerah lainLalu kenapa harus kartini yang menjadi ikon emansipasi dan tokoh pahlawan nasional?
Pertama saya ulas dan katakan kalau kartini itu mengalami pergulatan idiologi.Tidak saya sangkal kalau kartini kebanyakan hanya menulis surat ke sahabatnya di belanda, tidak ada wujud pergerakan yang konkret. Pada awal-awal kartini begitu memuja barat terutama pendidikan eropa yang “ bebas”.
Kartini memang wanita yang cerdas dari perempuan lain disekitarnya, tapi apakah benar kartini itu berhasil menyuarakan pembebasan perempuan melalui feminisme?Saya jawab tidak kartini belum berhasil. Disinni saya gunakan kata”belum” bukan tidak. Karna orientasi pandangan kartini terhadap barat berubah total semenjak ia mengenal hakikat islam.Menjelang akhir hayatnya tahun 1899 kartini bertemu dan mendengarkan tafsir ayat al-qur’an surat alfatihah, hal ini menggugah kartini. Ia meminta kepada KH Sholeh Darat untuk menterjemahkan alqur’an kedalam bahasa yang memang dimengerti masyarakat disana. Satu poin penting yang harus digaris bawahi, masa-masa ini terjadi upaya minimalisir peranan keislaman di indonesia oleh belanda.Belanda bahkan melarang penerjemahan al-qur’an kedalam bahasa indonesia, maka KH Sholeh darat melalui permintaan dan dukungan kartini menterjemahkan alquran kedalam bahasa jawa dengan tulisan arab pagon.
Kartini saat menikah diberi hadiah terjemahan 13 juz alqur’an mulai surat al-baqarah sampai ibrahim. Hal ini yang merubah idiologi pandangan kartini dan disinlah makna satu kalimat yang ditulis kartini itu sendiri ”habis gelap menuju cahaya”Dalam beberapa suratnya akan saya paparkan sebagai berikut yang menunjukkan bahwa tidak selama hidupnya kartini memuja barat atau belanda, tidak semua isi surat ditulis kepada sahabatnya di belanda dan NY Abendon berisi orientasi pendidikan barat.
Surat tanggal 27 oktober 1909 kepada Ny.Abendon = “ Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik tiada tara. Maafkan kami, tapi apakah ibu sendiri mengaggap eropa itu sempurna? dapatkan ibu menyangkal bahwa dibalik hal-hal yang indah dalam masyarakat terdapat hal yang tidak bisa disebut peradaban?Moga-moga kami mendapat rahmat,d apat bekerja membuat umat agama lain memandang islam patut disukai
Realitasnya memang sebentar dan tidak dalam kurun waktu yang lama, kartini melihat persoalan perempuan dari sudut pandang Islam. Perempuan sebagai pendidik utama sehingga ia harus dididik dan dicerdaskan, bukan sebagaimana budaya barat yang memberikan kebebasan tanpa batas.Surat tanggal 4 Oktober 1902 = “kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukan sekali-kali karna kami ingin anak perempuan itu menjadi saingan lak-laki dalam perjuangan hidup.
Editor : Adrian Tuswandi, SH