Selama lima tahun kepemimpinannya, Padang Panjang telah mengalami banyak kemajuan yang diakui oleh banyak pihak,” tambahnya.
Namun, di tengah dinamika demokrasi, serangan terhadap Fadly terus berlanjut. Salah satunya datang dari Taufik Ikhsan, SH, seorang peminat hukum politik yang diduga mendukung calon petahana.
Agung menilai serangan pribadi ini sebagai sesuatu yang memalukan dan dangkal.
“Sebagai pemuda yang juga sarjana hukum, saya merasa malu membaca pernyataan Taufik. Bukannya berdiskusi dengan logis, serangannya justru bersifat personal,” tegas Agung.
Agung juga membela kemampuan Fadly dalam berpidato yang dikritik oleh buzzer lawan. Menurutnya, seorang pemimpin harus memiliki keterampilan retorika yang baik.
“Pidato adalah etalase pemikiran seorang pemimpin. Ini penting agar masyarakat dapat menilai konsep dan visi pemimpin mereka,” jelasnya.
Agung bahkan menyinggung kemampuan Prabowo Subianto, Presiden RI ke-8, yang memukau dunia dengan pidato panjangnya tanpa teks.Ia juga mengingatkan pentingnya kemampuan retorika seperti yang dimiliki para founding fathers, seperti Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, dan Tan Malaka.
Agung menutup pernyataannya dengan pesan kepada Taufik, yang menurutnya seharusnya memahami konteks dalam kritik.
“Ingat pepatah di Padang, ‘Mangecek nan penting-penting se, jan sampai yang penting mangecek.’ Artinya, katakan yang penting-penting saja, jangan asal bicara tanpa dasar,” pesan Agung. (***)
Editor : MS