a. Pengumpulan Uang Pengumpulan uang tersebut dikepalai oleh kapalo mudo (pemimpin dari pemuda setempat). Pengumpulan ini dilaksanakan beberapa hari sebelum dilaksanakannya kegiatan kerohanian. Kapalo mudo menginformasikan kepada masyarakat sekitar untuk saling berlombalomba untuk mengisi ranting Bungo Lado tersebut dalam bentuk sumbangan. Biasanya, kapalo mudo juga menginformasikan kepada masyarakat tempat pengumpulannya. Tempat-tempat yang sering digunakan untuk mengumpulkan sumbangan tersebut berada di tempat keramaian, seperti di warung, pos ronda dan tempat strategis lainnya yang banyak dilalui masyarakat korong.
b. Mandekor (dekorasi) Setelah sumbangan terkumpul, para pemuda yang dikepalai oleh kapalo mudo akan melakukan dekorasi dengan menempelkan sumbangan tersebut di ranting pohon yang sudah dipersiapkan. Semakin banyak sumbangan yang didapatkan dari warga korong, semakin besar pula pohon bungo lado yang di pajang di mesjid saat pelaksanaan kegiatan kerohanian tersebut. Dekorasi ini dipimpin oleh kapalo mudo setiap korong1 . Kapalo mudo bersama masyarakat bersama-sama membagi tugas, seperti mencari ranting kayu, menghias kayu dengan kertas warna, dan menempelkan uang yang sudah terkumpul tersebut di ranting yang sudah di hias tersebut. Dekorasi ini biasa dilaksanakan di pos pemuda, warung, dan tempat keramaian yang dijadikan tempat berkumpulnya pemuda-pemuda pada daerah tersebut.
c. Maarak Bungo Lado Setelah bungo lado tersebut jadi, pemuda yang di kepalai kapalo mudo bersama masyarakat korong melakukan arak-arakan ke sekeliling kampung yang kemudian baru diletakan di surau/mesjid yang dijadikan tempat berkumpulnya bungo lado dari berbagai jorong di nagari tersebut. Pada saat proses arak ini, seluruh bungo lado yang di berasal dari jorong tersebut dipamerkan dan diberi nama sebagai tanda asal bungo lado tersebut. Pada arak-arakan ini, tidak hanya bungo lado yang dibawa oleh masyarakat korong, tetapi juga diiringi dengan jamba yang sudah dimasak oleh ibu-ibu di jorong tersebut.
Sumbangan uang diumpamakan dengan bunga cabai. Sumbangan ini merupakan simbol dari rasa syukur atas disebut bungo lado Unsur yang berhubungan kejiwaan seperti kepercayaan, rohani, batin (spritual) terpatri dalam kebudayaan masyarakat Bungo lado ini bagi masyarakat Pariaman merupakan bentuk gotong royong masyarakat dalam melakukan kegiatan kerohanian dan pembangunan sarana ibadah. Bungo lado ini merupakan bentuk sumbangan masyarakat untuk pembangun Mesjid atau kegiatan kerohanian. Dalam masyarakat Padang Pariaman, bungo lado merupakan salah satu bentuk ibadah atau infak masyarakat terhadap Mesjid atau kegiatan kerohanian lainya.Adapun dasar dari pelaksanaan tradisi ini, setiap masyarakat saling berkompetisi dalam memberikan jumlah sumbangan. Hal ini dilatarbelakangi dengan ajaran islam dalam Al-Quran Surat Al Baqarah Ayat 148.
Editor : MS
