Bukittinggi, - Seorang kepala sekolah internasional ternama di Jakarta berkebangsaan Inggris secara mengejutkan menghubungi saya untuk mengadakan program study tour ke Sumatera Barat bagi siswa kelas IX selama satu minggu.
Awalnya saya menolak, namun akhirnya menyanggupi setelah ia menyebut program telah disiapkan. Saya nyatakan bahwa jika programnya hanya wisata biasa, saya tak berminat.
Namun ia menjelaskan bahwa rekomendasi datang dari sekolah terbaik di Inggris yang rutin bermitra dengan saya.
Setelah saya pelajari, saya tetap menyampaikan bahwa program tersebut harus diubah karena minim nilai edukasi.
Meski ia khawatir akan penolakan dari yayasan dan orang tua siswa, kami sepakat bahwa perubahan di lapangan boleh dilakukan jika terjadi kendala, melalui semacam gentleman agreement.
Ketika siswa tiba di Bandara Internasional Minangkabau, pendamping mereka adalah seorang wakil kepala sekolah dari Filipina.Mereka menginap lima malam di hotel berbintang di Bukittinggi. Namun baru malam pertama, keluhan tamu hotel langsung bermunculan.
Anak-anak ini dengan usil mengetuk kamar tamu tanpa sebab hingga membuat kekacauan di seluruh lantai. CCTV membuktikan semua ulah tersebut.
Saya dan wakil kepala sekolah dimarahi tamu hotel dan diminta segera keluar. Saya meminta maaf secara langsung kepada para tamu dan pihak hotel.
Dengan sedikit emosi, saya berkata: “Saya bisa merubah anak-anak ini dalam waktu dua jam!”
Editor : MS