Mengakhiri sambutannya, ia menekankan posisi penting kaum ibu dalam budaya Minangkabau. Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, ibu-ibu tetap menjadi penjaga simpul sosial—baik dalam acara suka maupun duka.
“Juadah bukan sekadar kuliner. Ia adalah warisan budaya, simbol kebersamaan, dan jati diri kita. Dan semangat gotong royong dalam menyukseskan acara ini adalah bagian dari budaya itu sendiri—mandiri, tanpa mengandalkan APBD. Karena kita percaya: kebudayaan adalah tanggung jawab bersama.” pungkasnyaFestival Juadah ini menjadi bagian dari pilot project “Padang Pariaman Menuju 100 Festival”, yang diharapkan dapat menular ke seluruh 103 nagari di kabupaten ini. Dengan semangat yang sama, Padang Pariaman ingin membuktikan bahwa budaya bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga tentang masa depan yang dibangun bersama.
Editor : MS
