Rahmat mendorong agar ekstrakurikuler di sekolah memberi ruang lebih besar untuk aktivitas pertanian, terutama dalam konteks wirausaha dan inovasi teknologi pangan.
Rahmat berharap pendekatan ini tidak bersifat sporadis, melainkan menjadi bagian dari kebijakan yang berkelanjutan.
Menurutnya pentingnya pendampingan, pembiayaan, dan pembukaan akses pasar agar generasi muda yang berminat tidak berhenti hanya di tahap ketertarikan.
“Kalau kita ingin kedaulatan pangan, kita tidak bisa hanya bicara soal lahan dan produksi. Kita harus bangun minat dan pengetahuan generasi baru agar siap mengambil peran. Dan itu dimulai dari sekolah dan kampus,” tutupnya. (***) Editor : MS