“Hutan bukan sekadar warisan, tapi titipan untuk generasi mendatang. Kita harus pastikan hutan tetap lestari, masyarakat sejahtera, dan Indonesia berdaulat atas sumber daya alamnya,” katanya.
Ia juga menekankan bahwa perhutanan sosial adalah jalan menuju kemandirian bangsa, salah satunya melalui Proyek Strategis Nasional: Ketahanan Pangan dan Energi Berbasis Masyarakat. Hingga kini, akses kelola perhutanan sosial telah mencapai lebih dari 8,3 juta hektar dengan 1,4 juta kepala keluarga penerima manfaat serta terbentuknya 15.758 Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS).
KUPS sendiri telah menghasilkan berbagai komoditas, mulai dari jagung, padi, buah-buahan, kopi, madu hutan, kakao, kemiri, hingga ekowisata. Ke depan, masyarakat sekitar hutan diharapkan tak hanya jadi penjaga hutan, tapi juga pelaku utama ekonomi hijau yang bisa merasakan langsung manfaat dari pengelolaan hutan berkelanjutan.
Selain itu, program perhutanan sosial juga mendukung Asta Cita ke-2, yakni swasembada pangan, energi, air, serta penguatan ekonomi hijau dan biru, sekaligus Asta Cita ke-8 tentang pembangunan daerah dan desa untuk mengurangi kesenjangan.Menutup sambutannya, Sulaiman mengajak semua pihak, mulai dari pemerintah pusat, daerah, akademisi, swasta, hingga masyarakat luas, untuk terus bergandeng tangan memperkuat perhutanan sosial.
Editor : MS

