Menghadirkan model kepemimpinan adat yang responsif, cerdas secara budaya, adaptif terhadap teknologi, serta mampu menjadi aktor dalam pengembangan sosial, pendidikan budaya, ekonomi berbasis nagari, dan penguatan diplomasi budaya (cultural diplomacy).
Dengan demikian, Sakato bukan hanya sebuah organisasi adat; ia adalah “laboratorium peradaban” yang memungkinkan penyatuan pengetahuan tradisional dan nalar modern. Ia menjadi contoh bagaimana adat dapat bergerak dari ranah simbolik menuju ranah strategis—tanpa kehilangan akar, tanpa kehilangan marwah.
Sebagai epilog, dapat ditegaskan bahwa hadirnya Sakato – Sarumpun Ketua KAN Luhak Nan Tuo merupakan fase baru dalam sejarah kepemimpinan adat. Ini bukan penutup melainkan pembuka babak: era di mana adat Minangkabau tidak hanya dipertahankan, tetapi dikembangkan; tidak hanya diwarisi, tetapi disusun kembali secara ilmiah; tidak hanya dijaga, tetapi diperankan dalam percaturan sosial dan kebudayaan masa depan.
Dari Luhak Nan Tuo, adat bersuara.
Dari Sakato, adat berdaulat.Dari nagari, lahirlah peradaban (***)
Editor : Editor