Padang, - Krisis air bersih Sumatera Barat menjadi tantangan besar di tengah upaya pemulihan pascabencana hidrometeorologi yang melanda wilayah ini sejak 27 November 2025. Di satu sisi, relawan terus berjibaku membersihkan lumpur dari rumah warga dan fasilitas publik. Namun di sisi lain, keterbatasan pasokan air bersih justru memperlambat proses pemulihan.
Hujan yang terus mengguyur gugusan Bukit Barisan membuat aliran sungai yang berhulu di pegunungan belum juga jernih. Akibatnya, debit air meningkat drastic, sementara warna air berubah cokelat pekat dan berbau tanah. Kondisi ini memperparah krisis air bersih Sumatera Barat, terutama di wilayah terdampak banjir dan longsor.
Selain itu, trauma masyarakat kembali muncul setiap kali hujan turun deras. Para relawan pun merasakan tekanan serupa karena mereka menyaksikan langsung dahsyatnya terjangan air bah setelah hujan lebat berlangsung lebih dari enam hari.
“Sebenarnya air sungai melimpah. Namun air tersebut tidak bisa digunakan karena sangat keruh,” ungkap Gery Fernando dari Tim Penanggulangan Bencana PDI Perjuangan Sumbar. Oleh karena itu, warga memanfaatkan air hujan atau mengandalkan bantuan lembaga kemanusiaan untuk memenuhi kebutuhan harian di tengah krisis air bersih Sumatera Barat.
Selanjutnya, Tim Penanggulangan Bencana PDI Perjuangan diturunkan langsung ke sejumlah titik terdampak. Gery yang juga tenaga ahli anggota DPR RI Alex Indra Lukman ditugaskan mengoordinasikan aksi kemanusiaan tersebut.
Krisis air bersih Sumatera Barat paling terasa di Kecamatan IV Nagari Bayang Utara, Kabupaten Pesisir Selatan. Wilayah ini menjadi salah satu daerah dengan dampak banjir dan longsor paling parah.
Di lokasi tersebut, Alex Indra Lukman menurunkan 25 personel relawan yang terdiri dari tenaga medis dan nonmedis. Mereka memberikan layanan kesehatan, membagikan sembako, serta melakukan kerja bakti membersihkan lumpur.Namun demikian, aktivitas kemanusiaan ini ikut terhambat karena pasokan air bersih sangat terbatas. Selain listrik dan jaringan internet yang terputus, akses jalan menuju Nagari Pancung Taba bahkan terisolasi total akibat putus diterjang debit sungai yang kembali membesar. Kondisi ini semakin menegaskan parahnya krisis air bersih Sumatera Barat.
Sementara itu, krisis air bersih Sumatera Barat juga dirasakan di Kota Padang. Ketua PDI Perjuangan Kota Padang, Albert Hendra Lukman, mengakui suplai air bersih hampir tidak tersedia karena seluruh sungai utama dalam kondisi keruh dan berlumpur.
Bahkan, jaringan intake PDAM Padang kembali tertimbun endapan lumpur. Akibatnya, proses produksi air bersih sering terhenti. Situasi ini menyebabkan permintaan air bersih melonjak tajam dalam dua pekan pascabanjir.
Editor : Editor






