Membaca Strategi Presiden Prabowo, Masuk ke 'Board of Peace' Trump

IRMAN GUSMAN, Senator asal Sumatera Barat 2024-2029
IRMAN GUSMAN, Senator asal Sumatera Barat 2024-2029

Oleh: IRMAN GUSMAN, Ketua DPD RI 2009-2016, Senator asal Sumatera Barat 2024-2029

Bapak Bangsa Afrika Selatan Nelson Mandela pernah berkata, “Jika Anda ingin berdamai dengan musuhmu, Anda harus bekerja sama dengan musuhmu. Nanti dia akan menjadi mitra Anda.” Uskup Desmon Tutu menambahkan, “Jika kamu menginginkan perdamaian, jangan bicara dengan temanmu, bicaralah dengan musuhmu.”

Dua kutipan bijak itu berdengung di hati saya ketika saya mencoba membaca pikiran Presiden Prabowo Subianto yang masuk ke Board of Peace (BOP) bentukan Presiden Donald Trump sebagai mekanisme strategis untuk mempercepat terciptanya perdamaian dan rekonstruksi di Gaza.

Mungkin kearifan semacam itu juga yang mengilhami Presiden sebelum ia memutuskan untuk menjadi bagian dari upaya besar yang bertujuan mendamaikan Israel-Palestina menuju lahirnya Negara Palestina Merdeka.

Sebab Mahatma Gandhi pernah berkata, “Prinsip mata ganti mata hanya akan membuat seluruh dunia buta.” Artinya, menyelesaikan konflik secara emosional dengan motivasi balas dendam, tidak akan berhasil; hanya menghasilkan permusuhan tiada akhir.

Sebagai mantan Danjen Kopassus dan Panglima Kostrad yang sangat paham strategi tempur dan strategi perang, Prabowo paham apa arti strategi dalam menghadapi krisis keamanan. Seorang ahli strategi bisa saja membiarkan dirinya terkesan seolah-olah kalah tempur, agar bisa menang perang.

Menghadapi lawan, strategi yang akan digunakan tak boleh dibocorkan, apalagi diumumkan ke publik. Sebab jika lawan mengetahui strategi kita, maka kita sudah kalah sebelum masuk ke medan laga. Mungkin seperti itu juga cara Prabowo berpikir sebelum ia memutuskan untuk bergabung ke BOP.

Karena strategi diplomasi tingkat tinggi itu tak boleh dibocorkan, maka tentu saja langkah Prabowo masuk ke BOP memantik reaksi keras dari berbagai kalangan yang tak mengetahui tujuannya. Sejumlah kalangan berpendapat bahwa Prabowo sudah off-side, salah langkah, karena bergabung ke BOP yang kekuasaannya dimonopoli seumur hidup oleh seorang Trump sosok yang sepak-terjangnya impulsif dan kontroversial, serta memicu kemarahan di banyak negara.

Tapi masalah ini tak bisa dilihat hanya dari satu sudut pandang. Belum pernah ada kesempatan sebaik ini bahkan PBB pun tak mampu untuk mengupayakan perdamaian dan kemerdekaan Palestina. Krisis Palestina pasti akan semakin runyam dan rakyat Palestina akan semakin menderita jika tak ditempuh langkah terobosan yang out-of-the-box seperti yang dilakukan Presiden Prabowo.

Dalam situasi krisis, tak pernah ada cara yang sempurna untuk mengatasi krisis. Tapi seorang pemimpin harus mengambil keputusan, meskipun disadarinya bahwa itu bukan keputusan terbaik. Tapi keputusan itu bisa disempurnakan jika menghasilkan kondisi yang lebih baik.

Editor : Editor
Banner - JPSBanner - Nevi Hari IbuBanner KAIBanner Ultah SolselBanner Solsel 2Banner Solsel 3Banner Solsel 4Banner Solsel 5Banner Martry Gilang
Bagikan

Berita Terkait
Terkini